BNPT : Medsos Permudah Kelompok Radikal Rekrut Anggota Baru

Indriyani Astuti
07/9/2018 19:15
BNPT : Medsos Permudah Kelompok Radikal Rekrut Anggota Baru
(Ilustrasi)

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui adanya perubahan pola rekrutmen yang dilakukan kelompok-kelompok radikal. Kepala Subdit Bina Lembaga Permasyarakatan Khusus Teroris Andy Prasetyo menyampaikan dalam merekrut anggota baru, kelompok tersebut lebih banyak memanfaatkan media sosial.

"Kalau dulu sembunyi-sembunyi dari keluarga dekat atau relasi pertemanan, lewat lembaga keagamaan atau rekrutmen langsung," ujar Andy dalam acara seminar Orientasi Mahasiswa Batch 7 di Universitas Tanri Abeng, Jakarta, Jumat (7/9).

Perubahan pola rekrutmen yang dilakukan jaringan kelompok radikal dan teroris yang sebelumnya dilakukan secara tertutup, imbuh Andy saat ini dilakukan terbuka melalui berbagai media baru. Dikatakan Andy, situs, media sosial dan pesan aplikasi mememgang peran penting pada proses rekrutmen maupun pembaitan. Narasi intoleransi, radikalisme hingga terorisme disebarkan melalui konten-konten secara daring.

"Oleh karena itu, BNPT melakukan kontra narasi secara daring (online) serta ada tim yang memantau konten-konten tersebut di internet," ujarnya.

Andy menjelaskan perguruan tinggi menjadi tempat yang rentan disusupi paham-paham tersebut. Karenanya BNPT meminta para dosen, senat, dekan dan mahasiswa untuk memonitor kegiatan-kegiatan kemahasiswaan terutama di luar waktu-waktu yang tidak biasa.

"Kelompok - kelompok itu bergerak dapat masuk melalui komunitas, sarana ibadah di luar waktu yang wajar," imbuhnya.

Andy menjelaskan ada tahapan saat seseorang mulai terpapar radikalisme hingga mereka melakukan tindakan yang melawan hukum. Orang yang sudah terpapar paham tersebut, terang dia, diawali dengan munculnya sikap intoleransi dan tidak menerima perbedaan.

"Semua kasus radikalisme diawali dengan intoleransi menolak berbedaan," ucapnya.

Ia lebih lanjut menuturkan, aksi terorisme dari skala nasional dipengaruhi sejumlah faktor diantaranya pelaku merasa ada ketidakadilan, ada situasi politik yang tidak menentu, penafsiran dan doktrin agama yang tidak menyeluruh. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya