TNI-Polri Bersinergi Jamin Stabilitas

Rudy Polycarpus
24/8/2018 09:45
TNI-Polri Bersinergi Jamin Stabilitas
PENGARAHAN SISWA SESKO-SESPIMTI: Presiden Joko Widodo memberikan pengarahan kepada siswa Sekolah Staf Komando TNI dan Sespimti Polri di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Presiden Jokowi yang didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jender(ANTARA/HAFIDZ MUBARAK A)

PRESIDEN Joko Widodo mengingatkan anggota TNI/Polri pentingnya menjaga stabilitas politik dan keamanan. Stabilitas politik dan keamanan menjadi kunci masuk bagi investasi. Investor asing dan dalam negeri tidak ragu-ragu untuk menanamkan modal mereka di seluruh wilayah Indonesia.

"Tidak mungkin investasi datang apabila negara itu tidak stabil secara politik dan tidak aman. Investasi datang ke sebuah negara, pasti yang dilihat terlebih dahulu stabilitas politik dan keamanannya," ujarnya saat memberikan pengarahan kepada siswa Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) dan Peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Sespimti Polri) 2018 di Istana Negara, kemarin.

Dalam acara tersebut, hadir Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pengarahan itu diikuti 212 siswa Sesko TNI dan Sespimti Polri. 145 orang siswa Sesko TNI berpangkat kolonel, dan 47 siswa Sespimti Polri berpangkat komisaris besar (kombes).

Menurut Presiden, selain stabilitas dalam negeri, situasi global sangat memengaruhi iklim usaha di Tanah Air. Oleh sebab itu, Jokowi meminta anggota TNI/Polri segera mengatasi jika menemukan potensi-potensi yang dapat mengganggu investasi di Tanah Air.

"Perwira yang bertugas di daerah mengetahui dan ikut mengamankan yang namanya investasi. Jangan sampai justru saat ada yang investasi di daerah, lalu ada yang mengganggu dan itu kita diam. Ini keliru besar kita," cetus dia.

Ia pun menitipkan agar seluruh perwira ikut menyosialisasikan program yang telah dikerjakan pemerintah. Pemasyarakatan program dan kerja pemerintah yang sudah dicapai itu diselipkan dalam agenda-agenda tertentu. "Disosialisasikan, ikut disampaikan pada momen-momen yang memang tepat," titip dia.

Pesan Jokowi itu disampaikan memasuki masa kampanye Pemilu 2019. Sebagai negara majemuk, Presiden menyebut, Indonesia memiliki 714 suku dengan lebih dari 1.100 bahasa lokal. Agama dan adat budaya pun berbeda-beda pula.

Namun, ia mengingatkan kemajemukan sebagai kekuatan bangsa bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan baik. "Ini kekuatan, tapi kalau tidak bisa dikelola, bisa menjadi ancaman," tegas dia.

Terjebak rutinitas

Kepala Negara juga mengingatkan masyarakat agar memiliki visi sehingga tidak terjebak pada rutinitas. Selain menyebabkan hidup monoton, Indonesia dapat dipastikan menjadi ketinggalan di segala aspek bidang kehidupan.

"Kalau kita masih rutinitas, monoton, tidak melihat visi ke depan akan seperti apa, tahu-tahu kejadian, regulasi enggak siap, peraturan enggak siap, dan kita ditinggal betul," imbuh Jokowi yang akan kembali maju di Pemilu Presiden 2019.

Menurut Jokowi, visi tersebut dapat diperoleh bila masyarakat menuai pelajaran dari luar negeri.

"Inilah yang ingin saya ingatkan, betapa pentingnya kita mengikuti terobosan-terobosan negara lain, teknologi-teknologi terbaru, sehingga membangun sebuah sistem baik di Polri atau TNI menjadi penting sekali," lanjut dia. (P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya