Radikalisme bisa Dilawan dengan Pendidikan

Arnoldus Dhae
03/6/2015 00:00
Radikalisme bisa Dilawan dengan Pendidikan
(ANTARA/Anis Efizudin)
SALAH satu penyebab munculnya radikalisme adalah kebodohan. Karena itu, dengan pendidikan yang benar, sifat-sifat radikalisme bisa dihilangkan.

Hal itu diungkapkan Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) asal Kabupaten Bulelang, Putu Wilasa, dalam diskusi terbuka bertajuk “Meredam Radikalisme Menuju Islam Berkemajuan” yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng di Singaraja, Rabu (3/6).

Diskusi terbuka tersebut dalam rangkaian Syiar Muktamar ke-47 Muhammadiyah. Tampil sebagai pembicara selain Ketua FKUB Buleleng juga Ketua MUI Buleleng Abdurrahmad Said LC. Diskusi dibuka Ketua PD Muhammadiyah Buleleng H Mohammad Hidayat Abbas.

Menurut Wilasa, radikalisme juga muncul karena mengganggap diri paling baik dan paling benar. Radikalisme, kata dia, juga cenderung negative. Itu disebabkan karena kebodohan.

“Penyakit kebodohan bisa dihilangkan dengan pendidikan yang mencerahkan,” ujarnya.

Ia mengatakan, semua agama ingin menuju kedamaian dan cinta kasih. Itu pula yang didambakan oleh semua makhluk di dunia ini. Namun, kata dia, kedamaian tidak mungkin jatuh dari langit begitu saja. Kedamaian harus diperjuangkan.

Sementara Ketua MUI Buleleng Abdurrahman Said menjelaskan radikalisme merupakan paham yang menginginkan pembaharuan dengan cepat dan keras. Ia menegaskan, Islam tidak disebarkan dengan cara-cara semacam itu. Kata dia, umat Islam wajib berjihad jika berada di daerah konflik dan teraniaya. Jika berada di daerah damai, jihadnya berupa amar makruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan, dan menjauhi kemungkaran).

Kata Abdurahman, ada beberapa ciri kaum radikal. Yakni, tidak toleran, fanatik (merasa diri paling benar, eksklusif (memisahkan diri dari kebanyakan orang) dan revolusioner atau cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan).

Sedangkan Ketua PD Muhammadiyah Buleleng Moh Hidayat, dalam sambutannya, menyatakan Muhammadiyah mengambil tema ini karena selama ini terkesan Islam identik dengan kekerasan. Padahal, kata mantan Sekretaris KPU Buleleng ini, sesuai namanya, Islam mengajak kepada kedamaian dan kesejukan.

“Islam merupakan agaman cinta kasih. Mengajak hidup rukun dan tenteram. Agama yang berkemajuan, mengajak berbuat kebajikan dan menjauhi kemungkaran,” paparnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya