Kekalahan KPK di Praperadilan Jadi Pembelajaran Tim Pansel
Damar Iradat
29/5/2015 00:00
(ANTARA/Puspa Perwitasari)
KEKALAHAN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di tiga sidang gugatan praperadilan akan dijadikan pembelajaran oleh tim panitia seleksi KPK untuk memilih calon pimpinan KPK yang baru. Pasalnya, ke depan tantangan KPK dinilai akan lebih berat lagi.
''Tugas kami melihat ke depan, apa yang terjadi dengan KPK sekarang (tiga kekalahan di praperadilan) akan dijadikan pelajaran dan penajaman materi untuk memilih pimpinan KPK ke depan,'' tutur juru bicara tim pansel KPK, Betti Alisjahbana, Jumat (29/5).
''Kami melihat bahwa pimpinan KPK ke depan selain memiliki integritas juga harus memiliki pengalaman dan kapasitas kepemimpinan manajemen, harus independen, dan yang terakhir harus memiliki kompetensi,'' lanjut dia.
Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil sepakat dengan Betti. Menurutnya, kekalahan KPK di tiga sidang praperadilan menjadi koreksi bagi lembaga antikorupsi itu ke depan.
''Sebenarnya kalah di praperadilan bukan hal luar biasa. Yang digugurkan status tersangkanya bukan kasus hukumnya. Kasus hukumnya bisa saja dilanjutkan kalau KPK punya bukti-bukti terkait kasus tersebut. Saya melihat bahwa ini lah realitasnya. Ini koreksi bagi pimpinan KPK, penyidik dan penuntut untuk lebih baik lagi,'' kata Nasir.
Nasir juga melihat pimpinan KPK ke depan dibutuhkan seseorang yang memiliki keberanina dan kemampuan untuk mengatur irama penegakan korupsi dengan isu-isu terkait. Selain itu, pimpinan KPK nanti juga dituntut agar bisa bekerja sama dengan aparat penegak hukum lain seperti kepolisian dan kejaksaan untuk memberantas korupsi.
Tiga Pesan Presiden
Dalam kesempatan itu, Betti juga menjelaskan tim pansel KPK telah mendapat pesan dari Presiden Joko Widodo untuk menjalankan tugas mereka menjaring calon pimpinan KPK yang berkualitas. Ada tiga pesan yang disampaikan Presiden Jokowi kepada tim pansel KPK.
''Pertama, beliau (Presiden Jokowi) percaya dengan kami dan tidak akan intervensi. Kedua, tim sengaja dipilih dari latar belakang yang beragam, karena kami melihat masalah korupsi saat ini semakin canggih, kompleks, dan untuk mengatasinya dibutuhkan disiplin ilmu yang beragam, demikian juga nanti pimpinan KPK yang beragam dan komprehensif. Ketiga, kami membutuhkan KPK yang berwibawa dan kredibel dan tugas kami mencari itu semua,'' tutur Betti Alisjahbana.
Betti juga tidak mengkhawatirkan jika nantinya tak banyak yang mendaftar sebagai calon pimpinan KPK.
''Yang perlu diperhatikan, kami tidak mencari kuantitas, tapi kualitas. Kami memang menduga akan ada kekhawatiran dari banyak orang untuk ikut dalam seleksi. Itu sebabnya kami akan pro-aktif mengidentifikasi tokoh-tokoh yang memenuhi syarat dan kriteria dan akan mengimbau, mendorong, memotivasi, agar mereka mau ikut seleksi,'' tuturnya.
Hadir dalam dialog itu juga peneliti Indonesia Corruption Watch Ani Soetjipto. Dia optimistis nanti akan banyak yang terpanggil untuk mendaftar sebagai calon pimpinan KPK.
''Saya optimistis banyak orang yang terpanggil mendaftar di KPK. Apalagi kalau proses penjaringannya bukan hanya menunggu, tapi juga pansel pro-aktif mencari orang-orang kredibel yang bukan hanya ada di Jakarta, tapi juga di daerah,'' beber Ani. (Q-1)