Pawai Beratribut Cadar dan Senjata Mainan Jangan Dianggap Hal Biasa

Tesa Oktiana Surbakti
18/8/2018 22:07
Pawai Beratribut Cadar dan Senjata Mainan Jangan Dianggap Hal Biasa
(Twitter.com )

PAWAI karnaval TK dan PAUD memperingati HUT RI ke-37 yang diwarnai peserta berpakaian serba hitam, menggunakan cadar dan memegang senjata mainan, tidak bisa dianggap biasa. Sebab, pawai yang berlokasi di Kota Probolinggo itu mengarah pada ekspresi radikalisme.

"Ini bukan sekadar pawai biasa. Karena merupakan ekspresi dari radikalisme. Hal-hal seperti ini yang sangat sensitif, kemudian dicoba untuk dipopulerkan, agar tidak lagi dianggap sesuatu yang aneh," ujar pengamat terorisme Al Chaidar saat dihubungi, Sabtu (18/8).

Ekspresi radikalisme dikatakannya kerap terjadi di tengah anak-anak. Dia mencontohkan pengajaran kepada anak kecil bahwa orang yang memiliki kelainan berbeda disebut kafir. Kemudian, terdapat buku atau mata pelajaran yang mengandung hal-hal berbau radikalisme maupun intoleransi. Menurutnya, ekspresi radikalisme yang dipopulerkan melalui pawai perayaan kemerdekaan, sudah masuk dalam kategori child abuse atau kekerasaan terhadap anak-anak.

"Anak-anak kecil ini kan belum tahu. Mereka jadi korban, akrena dipaksa (memakai atribut tertentu) tanpa sepengetahuan mereka. Ini semacam abuse of children. Anak-anak semestinya punya dunia sendiri," imbuh Chaidar.

Dia menegaskan pemerintah harus turun tangan menindaklanjuti aksi pawai yang kini viral diperbincangkan. Dalam hal ini, perlu ditelusuri motif pihak sekolah maupun guru yang mengenakan atribut berbau radikalisme kepada anak muridnya. "Pemerintah perlu menindak, harus dipanggil (pihak) sekolah atau gurunya. Patut dipertanyakan apa maksud dari pawai tersebut. Seharusnya anak-anak diajarkan tentang ragam kultur, supaya dapat menghormati teman-teman yang berbeda latar belakang," tandas dia.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya