Berlatar Belakang Profesional, Resistensi terhadap Moeldoko Kecil

Micom
08/8/2018 08:00
Berlatar Belakang Profesional, Resistensi terhadap Moeldoko Kecil
(Peneliti Senior LSI Adjie Alfarabi---MI/M. Irfan)

PENUNJUKAN Jenderal TNI (Purn) Moeldoko sebagai calon wakil presiden pendamping Presiden Joko Widodo dinilai paling aman. Moeldoko diprediksi paling minim resistensi dari koalisi partai politik pendukung Jokowi. Sebab, mantan Panglima TNI itu berlatar belakang profesional.

Analisis minornya resistensi koalisi parpol terhadap Moeldoko diprediksi juga oleh Lingkar Survei Indonesia (LSI).

Peneliti Senior LSI Adjie Alfarabi mengungkapkan, posisi Moeldoko saat ini menjadi representasi profesional paling ideal sebagai cawapres. Sebab, Moeldoko memiliki pengalaman yang kuat. Dengan statusnya sebagai profesional cukup netral bagi parpol koalisi pengusung Jokowi.

“Pak Moeldoko ini berlatar belakang profesional. Resistensi dari parpol koalisi tentu akan kecil dengan posisinya sekarang. Latar belakangnya sebagai mantan Panglima TNI tentu menjadi nilai plus,” ungkap Adjie di Jakarta, Selasa (7/8).

Berdasarkan hasil survei LSI pada 10 Juli 2018, sedikitnya ada 5 nama yang berpotensi menjadi calon pendamping Jokowi di Pemilihan Presiden 2019. Selain Moeldoko, nama lainnya ialah Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Sri Mulyani, dan Tito Karnavian.

Adjie pun menambahkan, Moeldoko memiliki faktor penting lain berupa kedekatan dengan Jokowi sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan saat ini.

“Pak Moeldoko memang memiliki kedekatan dengan Jokowi. Buktinya, kini Pak Moeldoko dipercaya sebagai Kepala Staf Presiden. Posisi Kepala Staf Presiden ini merupakan jabatan yang sangat strategis di lingkungan Istana,” lanjut Adjie lagi.

Masuknya Moeldoko pun dipercaya mampu mengimbangi kompetitor. Sebab, kemampuan Moeldoko sangat kompleks. Moeldoko sangat fasih berbicara ketahanan pangan. Lalu, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini dinilai piawai dalam hal ekonomi. Untuk stabilitas keamanan, itu merupakan spesialisasi Moeldoko.

Terlepas dari posisi ini, figur Moeldoko juga sangat bersih sewaktu aktif berdinasi di militer. Tidak ada kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) atau catatan buruk yang dibuatnya. Lebih penting lagi, Moeldoko saat ini tidak terikat dengan koalisi parpol manapun.

Adjie menerangkan, Moeldoko ini bisa mengimbangi kompetitor Jokowi di Pilpres 2019.

“Duet Jokowi-Moeldoko akan bagus. Jika dipilih menjadi cawapres, Pak Moeldoko ini bisa imbangi kompetitornya. Sebab, pesaing Pak Jokowi adalah Pak Prabowo Subianto dengan mesin Gerindra dan koalisi partai lainnya,” terangnya.

Sebagai capres penantang, Prabowo juga berlatar belakang militer. Opini lain juga dilontarkan Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma). Sigma beropini, munculnya figur Moeldoko dipercaya akan memecah konsentrasi pemilik suara yang menyukai figur militer. Artinya, suara tidak terpusat pada Prabowo atau mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Sigma juga menegaskan, bergabungnya Moeldoko bisa menjadi penepis kritik masyarakat. Sebab, masih ada opini masyarakat bila Jokowi kurang memiliki keberpihakan terhadap kedaulatan terhadap bangsa. Selalu dinilai pro asing dan ‘aseng'.

“Moeldoko bisa memecah suara yang menyukai militer. Suara itu akan masuk ke Jokowi bila berduet dengan Moeldoko. Posisi soal kedaulatan juga clear,” pungkas Pengamat Politik Sigma Said Salahudin. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya