Menanti Satria Piningit Pilpres 2019

Micom
07/8/2018 08:05
Menanti Satria Piningit Pilpres 2019
(Ist)

KOMISI Pemilihan Umum telah membuka pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2019 sejak Sabtu (4/8) dan akan ditutup pada Jumat (10/8). Namun, hingga kini belum satu pun pasangan capres-cawapres yang mendaftarkan diri.

Dua nama yang disebut-sebut sebagai kandidat capres terkuat, yakni petahana Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sibuk mencari pasangan masing-masing sebagai cawapres. 

“Kita memang harus sabar menunggu munculnya satria piningit. Bukan hanya untuk cawapres, melainkan juga capres. Belum tentu juga Prabowo menjadi capres,” ungkap Permadi, paranormal yang juga mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan sempat bergabung dengan Partai Gerindra, di Jakarta, Selasa (7/8).

Kemunculan 'satria piningit' yang kemudian akan menjadi 'Ratu Adil' (pemimpin yang adil dan bijaksana) mengacu pada 'jangka' (ramalan) Prabu Jayabaya, Raja Kediri 1135-1157, yang kemudian diteruskan oleh pujangga Kraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1973). 

Secara harfiah, kata Permadi, 'satria piningit' yang berasal dari bahasa Jawa diartikan sebagai seorang ksatria yang disembunyikan di dalam pingitan. Namun secara substansial, 'satria piningit' memiliki pengertian sebagai seorang calon raja atau dalam konteks kekinian, capres-cawapres, yang masih dirahasiakan oleh zaman.

Karena masih dirahasiakan oleh zaman itu lah, masyarakat hanya bisa menduga atau memprediksi siapa sosok yang dianggap sebagai 'satria piningi' itu.

“Kita baru meyakini sosok tersebut sebagai ‘satria piningit’ sesudah terpilih menjadi presiden/wapres melalui pilpres,” kata Permadi.

Kemunculan Presiden RI dari waktu ke waktu, jelas Permadi, juga tak diduga-duga sebelumnya, seperti Soekarno yang digambarkan sebagai Satria Kinunjara Murwa Kuncara, Soeharto (Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar), BJ Habibie (Satria Jinumput Sumela Atur), KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Satria Lelana Tapa Ngrame), Megawati Soekarnoputri (Satria Piningit Hamong Tuwuh), Susilo Bambang Yudhoyono (Satria Boyong Pambukaning Gapura), dan Joko Widodo (Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu).

“Kemunculan Jokowi sebagai capres di Pilpres 2014 juga tidak pernah kita sangka-sangka. Ia yang mantan tukang kayu dan bukan ketua umum parpol, ternyata terpilih menjadi Presiden,” tukas Permadi.

Kini, kata Permadi, Jokowi bukan 'satria piningit' lagi karena sudah jelas koalisi partai politik yang mencalonkan dia sudah memenuhi presidential threshold (ambang batas pencalonan presiden), yakni 20% kursi DPR RI.

“Yang masih menjadi ‘satria piningit’ adalah cawapres bagi Jokowi, serta capres dan cawapres bagi lawan Jokowi,” urainya.

Apakah nama-nama yang sudah beredar di bursa cawapres Jokowi seperti Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Maruf Amin, Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Budi Gunawan, atau cawapres Prabowo seperti Ustaz Abdul Somad dan Ketua Dewan Syura Partai Keadilan Sejahtera Salim Segaf Al-Jufri, sudah otomatis menjadi 'satria piningit'?

Menurut Permadi, belum tentu, bahkan bisa jadi bukan di antara mereka.

“Namanya ‘satria piningit’ ‘kan kemunculannya rahasia, tiba-tiba muncul mengejutkan publik,” tukasnya.

Permadi hanya memberi tengara, 'satria piningit' yang akan muncul sebagai cawapres adalah yang latar belakangnya belum banyak diketahui umum, dan etnisnya pun tersamar.

“Kita tunggu tanggal mainnya, 9-10 Agustus 2018,” tegas Permadi.

Namun, Permadi juga memaparkan skenario terburuk yang ia klaim datangnya dari alam semesta dan Tuhan YME, yakni Pemilihan Umum 2019 tak akan terlaksana, karena sebelumnya akan terjadi 'gara-gara' atau huru-hara.

“Sudah ada tanda-tanda alam. Gerhana bulan darah dua kali, lalu gempa bumi 7 SR di NTB,” tandasnya. 

Dihubungi terpisah, Suhendra Hadi Kuntono mengaku kaget dengan prediksi Permadi. Namun, Suhendra yang etnisnya tersamar, beretnis Jawa tapi kelahiran Medan, Sumatra Utara, 50 tahun lalu, memilih istikomah sebagai salah satu 'satria piningit' bakal cawapres Jokowi.

“Kalau Allah menakdirkan seseorang sebagai ‘satria piningit’ dan kemudian menjadi pemimpin, siapa pun tak bisa menolak. Sebab itu, saya pun harus mempersiapkan diri bila bangsa dan negara ini memerlukan pengabdian saya. Problem besar bangsa ini ada dua, yakni birokrasi dan koordinasi. Banyak kebijakan Pak Jokowi yang patah di tengah jalan. Sebaik apa pun program Pak Jokowi, bila tak ada eksekutor andal, tak akan berjalan baik. Yang pasti saya akan mulai tumpas habis koruptor,” ujarnya. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya