Muhammadiyah Dorong Kesantunan Dalam Berpolitik

Thomas Harming Suwarta
05/8/2018 20:30
Muhammadiyah Dorong Kesantunan Dalam Berpolitik
(MI/Bary Fathahilah)

MEMASUKI masa-masa pendaftaran Capres-Cawapres dan perhelatan politik lain jelang 2019, masyarakat dan elit politik dihimbau untuk tetap mengedepankan kesantunan dalam berpolitik.

"Muhammadiyah berprinsip ini adalah rutinitas biasa lima tahunan dan karenaa itu rayakanlah dengan kegembiraan, kesantunan sehingga tidak merusak tatanan kehidupan berbngsa dan bernegara," kata Ketua Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Muhammad Ziyad di Jakarta, Minggu (6/8).

Ia berharap perbedaan pilihan politik jangan sampai menyebabkn kebencian dan perpecahan di masyarakat. Terutama hal tersebut menurit dia dimuli dari elit elit politik agar menjaga kata-kata, sikap dan perilaku sehingga tidak menyingung asesmama masyarakat habya karena berbeda pilihan politik. "Kalau kita belajar dari para pendiri bngsa mereka juga pernah mengalami perbedaan yang tajam tetapi tidak mengorbankan persatuan. Boleh berbeda tetapi persatuan tetap dijaga," pungkas Ziyad.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyatakan peran elit sangat penting dalam menentukan pola kampanye yang digunakan dalam pemilu. Terlebih dirinya menilai kemungkinan penggunaan kampanye ujaran kebencian, SARA dan kampanye negatif sangat mungkin terjadi di 2019 nanti.

Titi melihat hal tersebut harus diantisipasi, mengingat pasca pilpres 2014 lalu hubungan antar pendukung belum sepenuhnya pulih dengan sebagian masih terpolarisasi. Untuk itu prilaku elit menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa polarisasi itu tidak mengarah kepada ujaran kebencian, penggunaan sara hingga segregasi yang mengarah kepada perpecahan yang berbasis politik identitas.

"Elit harus bisa membawa kampanye yang betul betul fokus kepada politik gagasan dimana pemilih diajak untuk mencermati perbedaan itu dari aspek pencermatan visi misi program. Jika elit politik menunjukkan prilaku menghargai perbedaan, menempatkan keberagaman pilihan sebagai warna demokrasi yang harmonis, fokus kepada kampanye visi misi, program dan gagasan para calon, itu yang akan membantu menetralisir suasana," tutur Titi saat dihubungi Minggu, (5/8). (Dro/OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya