Pertarungan Pilpres 2019 Ibarat Pandawa Versus Kurawa

Micom
28/7/2018 08:25
Pertarungan Pilpres 2019 Ibarat Pandawa Versus Kurawa
(Ist)

PENDAFTARAN calon untuk Pemilihan Presiden 2019 tinggal menghitung hari. Namun, baru petahana Presiden Joko Widodo yang sudah jelas sebagai calon presiden, sementara pihak lawan masih belum jelas.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang disebut calon terkuat penantang Jokowi, saat berpidato di acara Ijtimak Ulama di Jakarta, Jumat (27/7) malam, mengaku lelah menghadapi Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera, calon mitra koalisinya.

"Mereka seperti Kurawa, terlalu banyak tarik-menarik kepentingan. Energi mereka akan terkuras sebelum bertempur, sehingga ending-nya akan kalah melawan Pandawa," ungkap tokoh nasional yang juga Ketua Umum Putra-Putri Jawa Kelahiran Sumatra, Sulawesi, dan Maluku (Pujakessuma) Nusantara, Suhendra Hadi Kuntono, dalam keterangannya, Sabtu (28/7).

Suhendra pun memprediksi pertarungan Jokowi versus Prabowo pada Pilpres 2014 akan terulang pada 2019, dan hasilnya pun akan sama, koalisi Jokowi yang ia asumsikan sebagai Pandawa akan mengalahkan koalisi Prabowo yang diibaratkan Kurawa dalam kisah pewayangan Mahabharata.

"Pilpres 2019 pun ibarat pertarungan Pandawa versus Kurawa," tegasnya.

Di belakang Kurawa, kata Suhendra, ada Drona dan Sengkuni yang sakti mandraguna tetapi licik, sementara di belakang Pandawa ada Sri Krishna, dewa yang menjelma manusia cerdik.

"Seperti Kurawa, pada Pilpres 2014 pihak lawan banyak menebar fitnah dan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) sebagai senjata pamungkas, tapi berkat kesabaran dan kecerdikan Jokowi, ia menang. Pada Pilpres 2019, bila KPU dan Bawaslu tidak tegas, bisa jadi fitnah dan isu SARA akan kembali digunakan sebagai senjata pamungkas menyerang Jokowi. Itu sudah terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2017," jelas Suhendra, yang juga Ketua Dewan Pembina Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI).

Dalam kisah Mahabharata, Kurawa ialah putra-putri Drestarasta-Dewi Gandari yang berjumlah 100 orang, sedangkan Pandawa adalah lima putra Pandu-Dewi Kunti yang bernama Puntadewa alias Yudistira, Bima alias Wrekudara, Arjuna alias Janaka, dan si kembar Nakula-Sadewa.

Pandawa, lanjut Suhendra, merupakan protagonis, sedangkan Kurawa antagonis. Dalam perang Bharatayuda di padang Kurusetra, Pandawa akhirnya keluar sebagai pemenang berkat kecerdikan Sri Krishna.

Suhendra kemudian mengibaratkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan Presiden RI, sebagai Duryudana, sulung Kurawa, yang terus menggalang kekuatan adik-adiknya demi melawan Jokowi.

Setelah bertemu Prabowo, sehari kemudian SBY bertemu Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Rabu (25/7) malam, dan Senin (30/7) nanti, SBY akan bertemu Presiden PKS Sohibul Iman.

Menurut Suhendra, sebagai sesama 'king maker', SBY bisa saja akan kembali kalah dengan kecerdikan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang ia asumsikan sebagai Sri Krishna, sebagaimana pada Pilpres 2014.

"Kalau SBY keukeuh menyodorkan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, bisa jadi calon mitra koalisi Demokrat akan kabur. Kecil pula kemungkinan Prabowo mengambil AHY sebagai cawapres karena sama-sama berlatar TNI sehingga tak akan memperluas ceruk pemilih," cetusnya.

Suhendra juga belum yakin koalisi Demokrat, Gerindra, PAN, dan PKS akan terwujud, bahkan sebaliknya bisa-bisa mereka ibarat 'rebut balung tanpa isi' (berebut tulang tanpa sumsum) alias sia-sia belaka.

"Terbukti, pertemuan SBY-Prabowo dan SBY-Zulkifli tidak secara konkret menghasilkan koalisi, karena masing-masing parpol punya cawapres sendiri-sendiri. Katakanlah Prabowo capres, lalu cawapresnya siapa? Demokrat menyodorkan AHY, PAN menyodorkan Zulkifli, dan PKS menyodorkan sembilan kadernya. Sulit untuk mencari titik temu. Bisa jadi di detik-detik terakhir Demokrat, PKS, atau PAN justru mendukung Jokowi. Itulah politik, tak ada kawan atau lawan abadi, yang abadi kepentingan," paparnya.

Mengapa Jokowi beserta parpol pendukungnya, yakni PDIP, Partai Golkar, Partai NasDem, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura diasumsikan sebagai Pandawa, sedangkan SBY dengan Partai Demokrat beserta calon mitra koalisinya, yakni Gerindra, PAN, dan PKS diasumsikan sebagai Kurawa, menurut Suhendra, karena pemerintahan Presiden Jokowi-Wapres Jusuf Kalla sudah di jalur yang benar.

Sementara Demokrat, Gerindra, PAN dan PKS hanya rajin mengkritik tapi tak bisa menawarkan solusi.

"Karakter Demokrat dan Gerindra cs seperti Kurawa, sehingga yang timbul adalah kegaduhan," tukasnya.

Karena Jokowi on the right track itulah maka Pujakessuma Nusantara, yang beranggotakan 23 juta orang, dan PPDI yang anggotanya para perangkat desa dari 73 ribu desa di seluruh Indonesia, akan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

"Ini berdasarkan pertimbangan akal sehat," tandasnya. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya