PPAD Anggap Wajar Beda Sikap Politik

Golda Eksa
25/7/2018 09:55
PPAD Anggap Wajar Beda Sikap Politik
SILATURAHIM PURNAWIRAWAN TNI: Mantan Wapres Try Sutrisno (kanan) bersalaman dengan veteran Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo dengan disaksikan Wakil KSAD Letjen Tatang Sulaiman (kiri) dan mantan Kepala BIN Letjen (Purn) Marciano saat silaturahim P(MI/RAMDANI)

PENGURUS Pusat Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PP PPAD) berharap perbedaan pandangan politik di antara para purnawirawan tidak menyurutkan tekad untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia berdaulat, adil, dan makmur.

Setiap purnawirawan TNI-AD pun harus menjunjung Sapta Marga prajurit yang ditanamkan sampai mati. Intinya, dalam wajah demokrasi para purnawirawan wajib mengusung martabat, nama baik, dan kehormatan militer.

Demikian dikatakan Ketua Umum PPAD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri seusai acara Silaturahmi PP PPAD dan Purnawirawan di Kantor PPAD, Jakarta, kemarin.

Turut hadir Menko Polhukam Wiranto, Wapres ke-6 RI Try Sutrisno, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, dan sejumlah purnawirawan dari berbagai angkatan.

Kiki menepis anggapan bahwa pertemuan itu bertujuan menyatukan purnawirawan TNI-AD yang sempat terbelah karena kontestasi politik. Menurutnya, sangat lumrah bila ada purnawirawan yang terjun ke dunia politik dan membela tujuan politik parpol masing-masing.

"Sebenarnya bukan terbelah, tapi berbeda pandangan karena terbawa parpol. Kan wajar dalam demokrasi. Tapi yang tidak boleh kita keluarkan kata-kata yang sarkastis, seperti yang terjadi di Pilpres 2014. Itu memalukan," ujarnya.

Dalam pertemuan itu juga dibahas mengenai keberadaan PPAD sebagai infrastruktur politik dan suprastruktur untuk memberikan masukan dan agregasi politik.

PPAD pun perlu mengambil posisi sebagai penyelamat jika negara dinyatakan dalam keadaan bahaya.

"Kita harapkan (purnawirawan) berpolitik dengan membawa ideologi. Jangan berpolitik dengan pragmatis. Tetap harus berpolitik dengan ideologi, Pancasila. Kita harapkan dalam bermain tidak menggunakan politik identitas, mengusung isu-isu primordial, suku atau agama. Ini menyebabkan perpecahan bangsa.''

Tepis

Menko Polhukam Wiranto menepis bahwa pertemuan purnawiran TNI-AD merupakan konsolidasi politik jelang perhelatan pesta demokrasi.

"Oh tidak. Yang hadir tidak hanya dari pemerintah, seperti saya mewakili pemerintah. Tetapi ada juga dari seluruh perwakilan parpol, dari Gerindra, PKPI, PDIP, dan ormas. Semuanya memberikan masukan," ujarnya.

Purnawirawan TNI-AD yang menghadiri silaturahim itu, imbuhnya, hanya ingin membagi pemikiran, khususnya soal upaya mengambil bagian dari perjuangan bangsa.

"Karena moto kami The Old Soldiers Never Die, Just Fade Away. Walaupun sudah purnawirawan, tetap akan pertahankan perjuangan kita di mana pun kita berada."

Ia menambahkan para purnawirawan TNI-AD ada yang duduk di pemerintahan, pengurus parpol, anggota legislatif, ormas, dan wiraswasta. Seluruhnya sepakat bahwa Sapta Marga prajurit tetap harus dijunjung.

''Ini pertemuan bagus karena memelihara jiwa keju-angan dari para mantan anggota TNI-AD." (P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya