Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT politik dari IndoBarometer Muhammad Qodari menyatakan bahwa dalam pergerakan politik beberapa hari ini menunjukkan bahwa persoalan Prabowo bukan berasal dari eksternal koalisinya (koalisi Jokowi) melainkan lebih kepaada dari internal koalisinya sendiri.
"Saya kira Prabowo pada hari ini tidak mendapatkan tekanan dari luar, tetapi justru paling besar itu tekanan kedalam dari partai koalisinya karena masing masing memaksakan wakil dari partainya. Tarik menarik politik tersebut pun berlangsung cukup keras," jelas Qodari saat dihubungi Media Indonesia Selasa (24/7).
Dia menilai semua partai di koalisi Prabowo berupaya memaksakan cawapresnya. Bahkan jika memang setelah pertemuan dirinya dengan SBY malam ini menggabungkan Demokrat, maka persoalan yang sama pun akan semakin kuat. Sebab, pada saat yang sama pihak Demokrat memiliki ambisi besar untuk mendoronga AHY sebagai cawapres.
Berbeda dengan koalisi Jokowi yang saat ini sudah menyepakati nama cawapresnya yang akan diusung nantinya.
Qodari menilai pertemuan antara Prabowo dan Demokrat sendiri menjadikan kubu PAN menjadi kurang senang. Dengan situasi tersebut PAN kemudian memberikan sinyal ancaman politik terhadap Prabowo.
Saat ini Qodari menilai Prabowo masih berusaha menyatukan partai partai politik yang ada di dalam kubunya. Upaya tersebut menurut Qodari masih akan terus dilakukan oleh Prabowo hingga menghasilkan dua opsi.
"Pertama, Prabowo bisa membangun koalisi besar yang di dalamnya ada PAN, PKS, Gerindra, dan mungkin Demokrat. Tetapi bisa juga gagal, sehingga Prabowo harus memilih salah satu untuk dijadikan wakil. Pemilihan wakilnya sendiri akan tergantung kepada perhitungan politik dari Prabowo," terang Qodari.
Lebih lanjut dirinya menilai bahwa Prabowo saat ini berada dalam posisi yang tidak terlalu terdesak dengan pertemuan yng dilakukan oleh Jokowi beserta partai koalisi di Istna Bogor kemarin. Salah satu penyebabnya adalah posisi Gerindra yang cukup bisa bersaing saat ini.
Prabowo menurut Qadari saat ini tidak berada di ujung tanduk karena berbeda dengan situasi 2009. Ketika itu dirinya kesulitan membentuk koalisi hingga akhirnya bubar akibat masih kecilnya suara Gerindra ketika itu dengan hanya 5%. Pada akhirnya Prabowo saat itu terpaksa menjadi calon dari Megawati.
"Namun sekarang karena suara Gerindra cukup besar, dengan 13% dia bisa dengan siapapun, baik itu PKS, PAN, atau Demokrat," pungkas Qodari. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved