KAA, Jalan Kaki yang Penuh Harapan

Donny Andhika AM
24/4/2015 00:00
KAA, Jalan Kaki yang Penuh Harapan
(MI/Rommy Pujianto)
DENGAN langkah ringan dan senyum terurai, Presiden Tiongkok Xi Jinping melangkah dari depan Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka. Bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Xi berjalan kaki di Jalan Asia Afrika untuk mengingat Konferensi Asia Afrika pertama pada 1955 di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/4).

Barisan kepala negara berjalan kaki dengan diiringi karnaval bendera negara Asia-Afrika serta marching band. Sekitar pukul 09.27 WIB, rombongan historical walk sampai di Gedung Merdeka.

Ini merupakan perjalanan pertama seorang pemimpin asal Tiongkok menyusuri Jalan Asia Afrika. Pada KAA pertama di Bandung, perwakilan Tiongkok saat itu, Perdana Menteri Chou Enlai, tidak ikut berjalan kaki. Ia terlambat datang ke KAA pertama akibat pesawatnya diledakkan.

Bentuk bangunan yang belum banyak berubah, mengingatkan para kepala negara dan pemimpin pemerintahan akan semangat yang digelorakan para pencetus awal KAA. Semangat untuk terbebas dari kolonialisasi, serta semangat untuk menciptakan dunia yang adil dan beradab itu tetap hidup hingga kini.

Presiden Jokowi mengingatkan seluruh kepala negara dan perwakilan negara peserta Historical Walk dalam pidatonya di dalam Gedung Merdeka. "Dahulu di dalam ruangan ini, hadir para pendahulu kita yang menginspirasi dunia," kata Jokowi dalam pidatonya.

Jokowi mengingatkan kembali semangat yang digelorakan Presiden pertama RI Soekarno, pemimpin besar India Jawaharal Nehru, pemimpin besar Pakistan Mohammad Ali Bogra, pemimpin besar Sri Lanka Sir John Kotelawala, serta peminmpin revolusioner Myanmar U Nu.

Jokowi mengatakan, kelima pemimpin negara tersebut memiliki cita-cita tentang kehidupan merdeka, adil dan sejahtera. Cita-cita tersebut menginspirasi terciptanya semangat Bandung.

"Dari kota ini, mereka menggelorakan perjuangan kemerdekaan, memperjuangkan kesejahteraan, dan memperjuangkan keadilan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika," kata Jokowi sembari menyebut bahwa cita-cita para pencetus KAA lebih besar dari jamannya.

Enam puluh tahun lalu, hanya ada tiga negara Afrika yang menghadiri KAA. Bahkan, Sudan yang belum merdeka dan belum memiliki bendera hadir hanya dengan menggunakan kain putih bertuliskan 'Sudan'.

Kini peta dunia telah berubah. KAA kali ini dihadiri 91 negara dengan semangat yang sama namun tantangan yang berbeda. "Kita harus menyadari bahwa cita-cita kita harus diraih melalui kerja sama, harus bermita secara sejajar dengan negara lain," kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menyadari bahwa hingga kini Indonesia masih belum terbebas dari kemiskinan. Oleh karena itu, Presiden ingin bekerja sama secara sejajar dengan sahabat-sahabat dari negara-negara lain.

"Kami masih tertinggal dibanding negara-negara maju di belahan dunia lain. Permasalahan ini juga dihadapi oleh negara-negara sahabat di Asia dan Afrika," kata Jokowi.

Oleh karena itu, Jokowi menyerukan para peserta KAa ke 60 untuk menghidupkan kembali Semangat Bandung. "Mari kita lanjutkan perjuangan para pemimpin kita 60 tahun yang lalu," kata Jokowi.

Pernyataan Jokowi diamini oleh Presiden Xi Jinping. Dalam pidatonya, Xi mengingatkan seluruh negara-negara Asia dan Afrika untuk tetap bahu membahu dan menguatkan kerja sama demi terciptanya tatanan dunia yang lebih adil.

Begitu pula dengan Presiden Zimbabwe Robert Gabriel Mugabe. Ia mengharapkan negara-negara di bagian selatan bumi bisa mencapai kemakmuran.

Harapan para pemimpin Asia dan Afrika memang bukan isapan jempol belaka. Jika 60 tahun lalu, para pencetus KAA bisa memberikan harapan dan memicu dekolonialisasi, para pemimpin di Asia dan Afrika saat ini bisa menciptakan tatanan dunia baru. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya