Ubah Tatanan Global, Jokowi Ajak Berjuang Lewat Ekonomi
Arif Hulwan
24/4/2015 00:00
(RUMGAPRES/AGUS SUPARTO )
MENGUBAH tatanan global tak cukup lewat perjuangan politik. Diperlukan kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan antarnegara Asia-Afrika. Ekonomi yang membaik bakal jadi modal untuk jadi negara yang diperhitungkan dunia.
Tema tersebut muncul dari pidato Presiden Joko Widodo, dalam agenda peringatan 60 tahun KAA, di Gedung Merdeka, Bandung, kota di mana api perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan digelorakan.
Ia menginginkan semangat Bandung 1955 dan para pemimpin dunia yang menginisiasinya terus dikumandangkan. Bentuknya, meningkatkan saling pengertian, mewujudkan perdamaian dunia lewat penghentian segala bentuk kekerasan, sekaligus memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Di sisi lain, Presiden menyadari Indonesia belum terbebas dari kemiskinan. Bahkan, bisa dibilang masih tertinggal dibanding dengan negara-negara maju. Masalah ekonomi ini pun disebutnya masih Membelit negara-negara ASia -Afrika lainnya.
"Kita harus bahu membahu meningkatkan kemakmuran rakyat kita melalui kerja sama ekonomi dan perdagangaan. Kita harus bahu membahu supaya bangsa kita sejajar dengan bangsa-bangsa maju di belahan dunia yang lain," cetus dia.
Jokowi mengungkapkan adanya semangat untuk memakmurkan rakyat dari 91 Kepala Negara/Pemerintahan atau delegasi yang hadir di ajang ini. Kondisi yang berbeda di tiap negara membuat hadirnya tantangan yang berbeda. Karena itulah ia mendorong adanya kerjasama.
"kita menyadari, cita-cita kita harus diraih, melalui kerja sama, harus bermitra secara sejajar dengan negara lain. Sekali lagi, bekerja sama secara sejajar dengan sahabat-sahabat dari negara-negara lain," tuturnya.
Dalam ajang tersebut, Pesan Bandung atau Bandung Massage pun ditandatangani opeh perwakilan Asia, Presiden China Xi Jinping, perwakilan Afrika, Raja Mswati III dari Swaziland, dan Joko Widodo selaku tuan rumah.(Q-1)