Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MARAKNYA penyebaran paham radikalisme di kalangan generasi muda, terutama di perguruan tinggi, melecut Forum Bela Negara Alumni Universitas Indonesia (Bara UI) menggelar forum diskusi bertajuk Memahami Semarak Radikalisme di Kampus-Kampus PTN dan Dampaknya bagi Masa Depan NKRI.
Diskusi yang digelar di Gedung Graha CIMB Niaga, Jakarta, kemarin, itu bertujuan untuk mengingatkan generasi muda agar lebih memahami arti radikalisme.
Fenomena radikalisme di kampus harus menjadi perhatian khusus para pendidik untuk mengingatkan generasi muda (mahasiswa). “Kita semakin terbelalak melihat jaringan kanker radikalisme sudah semakin semarak melilit organ-organ tubuh negeri ini. Kita tidak bisa tinggal diam,” tegas Ketua Umum Bara UI Iriani Sophiaan saat memberikan sambutan.
Menurutnya, penganut paham radikalisme yang tadinya bersembunyi dalam kesenyapan, kini sudah mulai terang-terangan muncul ke permukaan di tengah masyarakat luas. Bahkan, mereka sudah sangat kuat menguasai panggung politik dan menunggangi pendukung yang sebetulnya tidak paham akan makna gerakan para politikus radikal.
“Kondisi ini sudah dapat dikategorikan sebagai darurat radikalisme, bahkan sempat disebut sebagai darurat terorisme sebagai tahapan lanjut dari radikalisme,” imbuh Iriani.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut antara lain Azyumardi Azra dan Sidney Jones. Adapun perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berhalangan hadir.
Menurut Azyumardi, salah satu faktor mudahnya ideologi radikalisme masuk kampus karena adanya otonomi kampus. Kebebasan akademisi dan kebebasan sosial di perguruan tinggi memberikan ruang sangat besar bagi penyebaran paham tersebut. “Dengan kebebasan akademis, sulit bagi pimpinan perguruan tinggi mengontrol para dosen dan mahasiswa untuk tidak terkontaminasi paham radikal,” paparnya.
Oleh karena itu, lanjut Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Reformasi Birokrasi itu, kampus sebagai ranah publik tidak imun terhadap berbagai pengaruh dan infiltrasi paham, wacana, dan gerakan dari luar. “Lingkungan kampus perguruan tinggi hampir selalu menjadi target khusus bagi kelompok radikal dan ekstrem, baik ekstrem kiri maupun ekstrem kanan,” ucapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, kata dia, kurikulum dalam mata kuliah harus direvitalisasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved