LAMA tak terlihat pascapenetapan tersangkanya, mantan Menteri ESDM sekaligus mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Jero Wacik menampakkan wajah di sidang perdana praperadilannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Senin. Sudah sejak pagi Wacik sudah hadir, meskipun persedangannya baru dimulai menjelang siang. Namun sayang sidang tersebut ditunda karena tidak hadirnya KPK. Setelah persidangan, dia berkeluh kesah mengenai isi hatinya selama ini. Jero yang saat itu mengenakam kemeja biru dan jaket bahan hitam membawa istri dan dua orang anaknya untuk hadir di persidangan. Bahkan semua pengacaranya lengkap datang ke persidangan.
"Kami datang full team, istri dan anak saya datang, teman-teman saya dari Bali juga datang untuk memberikan dukungan bagi saya," ujarnya. Dalam sesi curhatannya itu, Jero mengungkapkan kesedihannya karena proses hukumnya di KPK lamban, rekeningnya dibekukan dan dilarang berpergian keluar negeri. "Ini menyedihkan bagi kami karena hak-hak kami sudah dicabut. Makanya kita ajukan praperadilan," ucapnya.
Selain itu, Jero juga tampak mengungkit sejumlah catatan perjalanan karirnya sebagai menteri mulai dari perjalananya menjadi menteri Budpar di mana pada saat itu dia banyak memberikan kontribusi dalam bidang kebudayaan termasuk memasukkan Wayang, Keris, dan Batik yang saat ini diakui Unesco. Dia mengklaim itu merupakan hasil kerja kerasnya saat menjadi menteri Budpar.
"Saya sebenarnya tidak senang mengklaim jasa-jasa saya, karena saya berpikir biarlah itu menjadi kontribusi saya pada negara ini. Tapi selama ini ada banyak berita negatif tentang saya sehingga saya ingin yang berimbang. Jadi yang positif harus saya sampaikan di sini. Saya bekerja keras selama 7 tahun di Budpar agar kebudayaan kita diakui Unesco," curhatnya.
Jero juga sempat menyatakan dirinyalah yang ditunjuk SBY sebagai menteri bukan atas kehendaknya sendiri. Bahkan, dia mengaku sempat menolak dipindahkan menjadi menteri ESDM. Tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa menolak. Lebih lanjut dia bercerita bahwa banyak yang terheran-heran dengan langkahnya menolak tawaran menteri ESDM karena posisi menteri ESDM sangat basah bahkan menjadi rebutan orang.
"Saya katakan saya hanya ingin bekerja, mengabdi pada masyarakat. Yang ada saat ini dibuat seolah-olah saya yang mencari posisi menteri ESDM padahal tidak. Saya tidak mencari itu," akunya. Curhatan Jero tidak hanya mengungkap apa yang dia rasakan. Bahkan dia juga berani mempertaruhkan pengakuan mantan Presiden SBY, Jusuf Kalla dan Boediono mengenai kinerja Jero selama ini. "Saya sepuluh tahun bekerja dengan SBY, 5 tahun dengan JK dan 5 tahun dengan Boediono. Mereka semua masih hidup dan tahu seperti apa saya. Silahkan tanya mereka bagaimana saya bekerja selama ini," tandasnya. (Q-1)