Kalah di Pilkada, Gerindra Siap Balas Dendam di Pilpres

Husen Miftahudin
03/7/2018 21:15
Kalah di Pilkada, Gerindra Siap Balas Dendam di Pilpres
(Ist)

PARTAI Gerindra enggan larut dalam kekalahan Pemilihan Kepala Daerah serentak 2018. Partai besutan Prabowo Subianto itu siap habis-habisan merebut kemenangan di Pemilihan Presiden 2019.

Ketua DPP Partai Gerindra, Nizar Zahro, tak khawatir dengan hasil Pilkada. Dia yakin hasil pilkada berbeda dengan Pilpres 2019.

"Hasil kemarin itu tidak menunjukkan bahwa parpol yang mengusung gubernur yang paling banyak menangnya, maka otomatis presidennya menang," kata Nizar dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/7).

Nizar memberi contoh pada Partai NasDem dan Partai Persatuan Pembangunan. Di koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi), kedua partai itu paling mentereng di Pilkada serentak 2018 lantaran calon yang mereka usung banyak yang menang.

"Dia (NasDem) mencalonkan Pak Jokowi. Apakah menang? Belum tentu. Kita buktikan saja nanti. Karena persentase yang dihasilkan di Jawa atau di luar Jawa, tidaklah geografis memenangkan incumbent (petahana)," ketusnya.

PPP banyak menang di pilkada dan mengusung Jokowi di Pilpres 2019. Namun, politik bersifat cair dan koalisi bisa saja berubah.

"Hari ini PPP koalisi dengan Pak Jokowi, 30 hari belum tentu. Sabar aja," tukas dia.

Hingga saat ini, baru dua nama yang resmi menjadi capres, Jokowi dan Prabowo Subianto. Jokowi punya koalisi gemuk lantaran telah diusung oleh lima parpol, yakni PDI Perjuangan, NasDem, Golkar, PPP, dan Hanura. Sedangkan Prabowo baru diusung Gerindra.

Dari 10 partai yang punya kursi di DPR RI, ada empat parpol yang belum mendukung atau mengusung calon untuk capres-cawapres. Mereka di antaranya adalah PAN, Demokrat, PKS, dan PKB.

Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago, koalisi politik yang dibentuk di Pilpres 2019 bersifat transaksional. Koalisi partai akan terbentuk di menit-menit akhir.

"Ini bukan paham ideologis lagi, melainkan ini transaksional. Ini akan banyak kejutan. Dan tidak menutup kemungkinan ada poros ketiga," pungkas dia. (Medcom/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya