Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Deni Irvani menuturkan berdasarkan exit poll yang dilakukan oleh lembaganya di 6 provinsi meperlihatkan potret peta dukungan calon presiden masih mengunggulkan Jokowi bila pemilihan presiden diadakan pada hari H pilkada. Kampanye 'ganti presiden' hanya berpengaruh di Jawa Barat.
Hal tersebut disampaikannya saat menyajikan hasil penelitian SMRC tentang exit poll pemilihan gubernur di 6 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.
Dari hasil exit poll tersebut di Jawa Tengah Jokowi memperoleh suara 73.1 persen dan Prabowo 19.7 persen. Selanjutnya di Jawa Timur Jokowi memperoleh suara 64.2 persen dan Prabowo 28.3 persen. Selanjutnya di Sumatera Utara Jokowi memperoleh 52.8 persen dan Prabowo 40.4 persen. Di Sulawesi Selatan Jokowi memperoleh suara 50.0 persen dan Prabowo 38.4 persen. Serta di Kalimantan Barat Jokowi memperoleh suara 58.4 persen dan Prabowo 35.0 persen. Sedangkan di Jawa Barat Parabowo unggul 51.2 persen dan Jokowi 40.3 persen.
Menurut Deni, 5 provinsi tersebut merupakan basis kantong suara Jokowi. Sementara Jawa Barat adalah basis kantong suara Prabowo sehingga dirinya memandang belum ada banyak perubahan ternyata terkiat basis suara jika melirik ke Pilpres 2014.
Keunggulan Prabowo di Jawa Barat sendiri menurut analisisnya merupakan dampak dari adanya kampanye 'ganti presiden' yang cukup efektif menjaga suara kantong Prabowo disana.
“Ada indikasi kampanye ‘ganti presiden’ berpengaruh di Jawa Barat, meski tidak demikian di daerah lain. Di Jawa Barat mesin partai pendukung Prabowo, yakni Gerindra dan PKS jauh lebih besar, dan ini yang membuat kampanye tersebut efektif,” ujarnya saat ditemui di Kantor SMRC, Jalan Cisadane, Jakarta, Selasa (3/7).
Data survei opini publik pada hari H lewat exit poll di 6 provinsi juga menunjukkan adanya konsistensi antara hasil survei opini publik (yaitu exit poll) dengan hasil Quick Count. Pihak yang unggul dan komposisi perolehan suara masing-masing kandidat melalui exit poll kurang lebih sama dengan siapa yang unggul dan komposisi perolehan suara masing-masing kandidat yang terlihat dalam Quick Count.
"Temuan di exit poll SMRC ini menunjukkan perolehan suaran masing-masing kandidat tidak berbeda secara signifikan dengan perolehan suara Quick Count. Kalaupun ada perbedaan kecil," ungkapnya.
Dirinya mencontohkan di Pilkada Jawa Barat data exit poll menunjukkan pasangan Ridwan-UU memperoleh dukungan suara 32 persen. Sementara pasangan Hasanuddin-Anton 9,1 persen; Sudrajat-Syaikhu 25,1 persen; Deddy-Dedi 21 persen, dan tidak tahu/tidak jawab 12,3 persen.
Hal serupa terlihat di Pilkada Jawa Tengah. Pasangan Ganjar-Taj Yasin memperoleh dukungan suara 59,2 persen dan Sudirman-Ida 30 persen. Tidak tahu/tidak jawab 10,8 persen.
Data exit poll juga menunjukkan ada hubungan kuat antara pilihan pada partai pengusung atau pendukung dengan pilihan pada calon gubernur terkait. Di Jawa Barat, misalnya, jumlah pendukung partai-partai yang mendukung Ridwan-UU jauh lebih sedikit dibanding partai-partai pendukung/pengusung Sudrajat-Syaikhu dan Deddy-Dedi. Tapi Ridwan-UU mendapat suara lebih besar, demikian juga untuk kasus Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Metode sampel exit poll ini menggunakan stratified two stage random sampling. Adapun prosedurnya terdiri dari populasi dikelompokkan menurut wilayah kabupaten dan kota, lalu masing-masing kabupaten dan kota dipilih TPS sebagai primary sampling unit dengan jumlah proporsional.
Kemudian di masing-masing TPS dipilih empat orang yang baru keluar dari TPS memilih pada waktu yang ditentukan secara acak. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved