SINERGI TNI-Polri dalam pengejaran sisa anggota teroris pimpinan Santoso, di Poso, Sulawesi Tengah, penting ditingkatkan. Daerah persembunyian yang luas dengan medan sulit di hutan-hutan Gunung Biru, Poso, membuat perlunya keberadaan militer dalam operasi terorisme Kepolisian.
"Kita bisa bayangkan ketinggian Gunung Biru berapa. Memang Kepolisian sulit masuk ke sana. TNI datang ke sana sudah pasti secara psikologis kelompok Santoso ini pasti enggak nyaman. Kan turun (TNI). Kepolisian bisa banyak berbuat di sana. Perlu dikembangkan sinergi seperti itu," tutur Panglima TNI Jenderal Moeldoko.
Tak cuma personel, pihaknya juga menerjunkan tiga armada kapal perang, pesawat tempur, serta pesawat jenis Hercules ke dekat lokasi. Namun, itu masih dalam koridor latihan perang.
"Enggak (untuk memburu teroris) lah. Itukan enggak cocok. Just utk menekan saja," aku dia.
Komjen Badrodin Haiti, Wakapolri, mengakui pihaknya tak henti melakukan perburuan terhadap sisa kelompok teroris Poso yang masih belum tertangkap. "Ya tetep kita lakukan, akan lakukan pengejaran terhadap sisa-sisa kelompok yang lain untuk bisa kita lakukan penindakan," kata dia.
Dia pun telah melaporkan kepada Presiden Joko Widodo, dalam rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Senin (6/4), soal usainya perburuan terhadap salah satu pimpinan terorisme Poso, Daeng Koro.
Moeldoko mengakui, Daeng Koro merupakan seorang pecatan TNI dari Korps Pasukan Khusus. Lantaran itulah, dia mewanti-wanti soal tingkat kebahayaan pecatan TNI jika bergabung ke kelompok teroris.
Jika ada lagi desersir TNI yang terbukti bergabung dengan teroris, ia tak segan untuk memburu dan menyerahkannya ke pengadilan umum untuk disidang. Baik itu aksi terorisnya maupun tindak desersinya.
"Banyak juga orang-orang yang sempat lepas masuk tentara, karena psikotes kita kan enggak bisa melihat bahwa mereka itu dulunya manusia ini mantan bajingan atau sikap bajingannya. Memang ada kan," terangnya. (OL-3)