Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PASCAPENANGKAPAN lima pelaku terduga terkait kelompok Islamic State (IS) pada Sabtu (21/3), Tim Gabungan Antiteror Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menggeledah empat rumah tempat tinggal para pelaku, kemarin. Rumah pertama yang digeledah ialah sebuah rumah yang dikontrak Engkos Koswara (EK), di Kompleks Puri Cendana, Tambun, Bekasi.
Dari hasil penggeledahan, polisi menyita sejumlah buku bertemakan jihad, beberapa bilah pedang, 5 laptop, 10 telepon seluler, seragam loreng, dan senjata api, serta 4 paspor yang hendak digunakan oleh Koswara bersama istri dan kedua anaknya ke Turki dalam waktu dekat. Petugas juga menggeledah rumah AM di Cibubur. Selain itu, rumah di Cisauk, Tangerang, dan Petukangan, Jakarta Selatan juga digeledah. Dari dua lokasi itu tiga ditangkap, Sabtu (21/3).
"Ketiganya ialah Furqon (FQ), AP, dan MF. Furqon merupakan buron Densus dan residivis asal Bima, NTB. AM juga pernah ditangkap pada Desember 2014 karena menampung belasan WNI asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang hendak ke Suriah," jelas Kepala Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKB Herry Heryawan, kemarin.
Sementara itu, peran AP yang ditangkap di Cisauk membantu membiayai kegiatan IS, dan MF yang ditangkap bersama AP, sebagai pengunggah berita provokasi dan ajakan bergabung dengan IS di media sosial. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono mengatakan pihaknya masih terus mendalami kelima terduga terlibat IS.
Unggung menyebutkan kelimanya terancam dijerat UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Terorisme dan UU No 9/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. "Selain itu, digunakan juga UU No 11/2008 terkait Informasi dan Transaksi Elektronik," ujarnya dalam jumpa pers pascapenggeledahan di Bekasi.
Jadi ancaman
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Saud Usman Nasution mengatakan sejumlah organisasi di Tanah Air yang menyatakan dukungannya terhadap gerakan IS menjadi ancaman bagi Indonesia.
"Saya tahu Abu Bakar al-Baghdadi sudah menyebutkan, jika ada anggota IS yang ingin berlatih militer, silakan datang ke Poso. Abu Bakar Ba'asyir dan Santoso bahkan telah menyatakan dukungan kepada IS," ujar Saud, pada sebuah diskusi bertemakan IS di Jakarta, kemarin.
Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As'ad Ali menambahkan, WNI yang sepaham dengan IS tidak akan pernah menjadi tokoh sentral. "Mereka hanya sekadar dijadikan pion, pembantu atau martir bom bunuh diri," katanya.
Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan pihaknya sudah mengidentifikasi sekitar 514 WNI yang terindikasi berhubungan dengan IS. Karena itu, pemerintah terus memantau di jalur imigrasi.
Kepala BIN Marciano Norman mengatakan pemerintah harus menindak tegas, yakni berupa pencabutan kewarganegaraan Indonesia kepada mereka yang jelas-jelas bergabung dengan IS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved