NU Khawatir Perpecahan di Parpol Merembet ke Ormas
Adhi M Daryono
01/4/2015 00:00
(Solahuddin Wahid.--(MI/Susanto))
MENYIKAPI perpecahan dalam internal partai politik akhir -akhir ini seperti yang dialami oleh Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan , yang berawal dari kongres atau muktamar untuk memperebutkan tampuk kepemimpinan, aktivis dan ulama dari ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama, khawatir penyelenggaraan Muktamar ke -33 NU yang sedianya akan berlangsung pada Agustus mendatang akan menimbulkan perpecahan di internal NU akibat dari proses pemilihan ketua umum PBNU yang kotor.
Hal itu dikatakan oleh tokoh senior NU sekaligus pimpinan pondok pesanteren Tebu Ireng, Jombang , Jawa Timur, Solahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Solah dalam suatu diskusi bertajuk 'Menuju Muktamar NU yang Bersih', di Jakarta , Selasa (30/3) malam.
Gus Solah mengatakan bahwa dirinya khawatir jika NU dipakai oleh orang -orang tertenut untuk memuluskan jalan poligik seseorang dan demi mendapagkan kedudukan. "Maka cadi itu pemilihan di Muktamar jauh-jauhilah dengan politik uang. Saya khawatir perpecahan seperti di parpol akan diikuti oleh NU,'' ujar Gus Solah.
Dia menambahkan, di tahun 2015 ini secara bersamaan dilaksanakan pula Muktamar ormas keagamaan terbesar lainnya yakni Muhammadiyah. Maka dari itu sebagai dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah harus bisa menjadi contoh kesolidan dalam berorganisasi meski keduanya hanya ormas bukan partai politik.
Dalam Muktamar ke -32 NU di Makassar pada 2010 lalu, Gus Solah menengarai adanya praktik politik uang dalam pemilihan ketua umum PBNU. "Praktik riswah asyiasyah (money politik) jangzn terjadi pada muktamar mendatang, seperti yang diduga terjadi pada muktamar sebelumnya,''ujar Gus Solah.
Sementara itu mantan ketua Mahkamah Konstitusi ya g juga menjadi bagian dari NU Mahfud MD mengkhawatirkan pula nantinya ada muktamar yang tidak bersih, karena hampir semua lini kehidupan masyarakat jika pemilihan jabatan selalu menggunakan cara yang kotor.
“Pakai uang, pakai janji-janji politik, pakai transaksi politik dan intervensi kekuatan dari luar sering terjadi,†ujar Mahfud.
Oleh karena itu, kata Mahfud, kita yang disini merasa sebagai jamaah NU ingin muktamar NU bersih untuk yang akan datang, dan itu harus dimulai dari ormas keagamaan seperti NU. Menurutnya, sekarang ormas-ormas lain seperti LSM, organisasi profesi jikan menggelaf kongres atau pun muktamar memakai cara keributan.
Mafud juga mengatakan, muktamar di masa awaln-awal NU itu bersih. Namun, dia merasa beberapa kali terakhir ini muktamar NU disinyalir ada intervensi kekuatan politik dari luar, kemudian ada permainan uang dan macam. “Mungkin saja itu isu, tetapi walaupun isu, itu harus diantisipasi dari sekarang ini,†katanya. (OL-3)