Negara Iriana Widodo dan sejumlah menteri Kabinet Kerja, hari ini hingga Sabtu (28/3), akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang dan Tiongkok. Kepada wartawan di Yogyakarta, Jumat (20/3), dalam laman Setkab.go.id, Presiden Jokowi mengatakan kunjungannya ke Jepang ialah untuk investasi dan perdagangan. "Tapi yang konkret, saya enggak mau hal-hal yang enggak konkret, yang enggak riil," ujarnya. Saat ditanya contohnya, Presiden Jokowi mengatakan supaya ada capital in fl ow ke Indonesia, utamanya di infrastruktur, baik pelabuhan, airport, power plant, kereta api, tol, dan sebagainya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyampaikan tujuan utama kunjungan itu ialah meningkatkan kerja sama Indonesia dengan Jepang dan Tiongkok, utamanya sektor ekonomi.
Menurut Arrmanatha, kunjungan kerja itu dilakukan untuk menekankan bahwa Indonesia merupakan mitra penting bagi Jepang dan Tiongkok. Jepang merupakan mitra strategis Indonesia dalam 10 tahun terakhir dan mitra dagang terbesar ketiga dengan nilai perdagangan sebesar US$40,2 miliar. "Jepang juga merupakan investor terbesar kedua di Indonesia dengan nilai (investasi) sekitar US$2,7 miliar pada 2014. Selain itu, jumlah wisatawan Jepang yang datang ke Indonesia mencapai 480 ribu sehingga Jepang menempati posisi terbesar kelima," ungkap dia.
Dalam kunjungan kerja ke Jepang, menurut Arrmanatha, Presiden Jokowi akan melakukan pertemuan dengan Kaisar Jepang dan menghadiri forum bisnis dengan 1.000 pengusaha Jepang. "Dalam kunjungan di Jepang, diharapkan ada beberapa kesepakatan terkait dengan perdagangan, investasi, dan kerja sama pertahanan," ujar dia. Selanjutnya, pada 26 Maret di Beijing, Presiden Jokowi akan melaksanakan kunjungan kenegaraan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. "Akan ada pertemuan dan pembicaraan dengan pengusaha Tiongkok dan forum bisnis. Tiongkok merupakan mitra komprehensif Indonesia dalam 11 tahun terakhir," jelas dia. Ia menyebutkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok mencapai US$48 miliar dan nilai investasi Tiongkok di Indonesia mencapai US$800 juta.