Jokowi Ingatkan Peran Pancasila sebagai Penuntun Bangsa

Rudy Polycarpus
01/6/2018 13:03
Jokowi Ingatkan Peran Pancasila sebagai Penuntun Bangsa
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kiri), Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri (ketiga kiri), Wakil Presiden ke-6 Tri Sutrisno (kedua kiri) dan Wakil Presiden ke-11 Boediono bersiap memimpin upacara Har(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

PRESIDEN Joko Widodo kembali mengingatkan soal peran esensial Pancasila sebagai bintang pemandu bangsa Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa kita.

Di usia yang ke-73 tahun, Presiden menilai Pancasila mampu bertahan di tengah hantaman ideologi-ideologi lain yang hendak menggeser dasar negara itu.

"Selama 73 tahun, Pancasila menjadi bintang pemandu bangsa Indonesia. Selama 73 tahun, Pancasila sudah bertahan dan tumbuh di tengah deru ombak ideologi- ideologi lain yang berusaha menggesernya," ujarnya saat menyampaikan pidato pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di pelataran Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (1/6).

Dalam upacara ini Jokowi datang mengenakan baju adat khas suku Jawa berupa beskap dan blangkon.

Hadir juga Wakil Presiden Jusuf Kalla berserta sejumlah menteri Kabinet Kerja yang berpakaian adat nusantara. Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno, dan Wakil Presiden ke-11 Boediono juga tampak.

Pancasila pertama kali diuraikan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945, kemudian dituangkan dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Kemudian, dirumuskan secara final pada 18 Agustus 1945.

Para pendiri bangsa dari berbagai kelompok, golongan dan latar belakang, sambung Jokowi, duduk bersama untuk menetapkan Pancasila sebagai pemersatu segala perbedaan. Pancasila berperan sebagai falsafah dan dasar negara yang kokoh, yang menjadi fondasi dibangunnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

"Adalah tugas dan tanggung jawab kita memastikan bahwa Pancasila selalu hadir dalam setiap sudut kehidupan serta hati dan pikiran kita," pesan mantan wali kota Solo itu.

Ia mengingatkan, sebagai bangsa majemuk yang terdiri atas 714 suku dengan lebih dari 1.100 bahasa lokal yang hidup di lebih dari 17.000 pulau, semangat persatuan merupakan pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun di sisi lain, kemajemukan yang dimiliki bangsa juga berpotensi dibayang-bayangi risiko intoleransi. Oleh sebab itu, menjaga semangat persatuan ialah keniscaan jika ingin menjadi bangsa yang besar.

"Kita harus memperkokoh kekuatan kolektif bangsa dan tidak boleh menghambur-hamburkan energi dalam perselisihan darn perpecahan," tandasnya.

Selain itu, semangat gotong royong yang merupakan budaya luhur bangsa harus terus dipupuk sebagai sumber energi besar Indonesia untuk menggapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

"Dengan modal semangat dan energi kebersamaan, kita akan mampu berprestasi untuk memenangkan kompetisi," ujarnya.

Di Hari Lahir Pancasila, Kepala Negata meminta momentum ini menjadi pengingat guna mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Karena itu, ia mengajak semua pihak sama-sama mengamalkan Pancasila dalam keseharian.

"Saya mengajak para ulama dan tokoh agama, guru dan ustad, politisi dan jajaran aparat pemerintahan, para anggota TNI dan Polri, para pekerja dan pelaku ekonomi, serta seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama mengamalkan Pancasila dalam keseharian kita. Semangat bersatu, berbagi dan berprestasi akan meneguhkan derap langkah kita dalam membawa Indonesia menuju negara yang maju dan jaya," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya