Presiden: Masyarakat Jangan Mau Dikompori Politisi

Rudy Polycarpus
31/5/2018 17:30
Presiden: Masyarakat Jangan Mau Dikompori Politisi
(ANTARA)

PRESIDEN Joko Widodo meminta masyarakat membuka mata dan berpikir rasional agar tidak mempan dengan isu yang dilontarkan politisi di setiap pemilihan umum.

Menurutnya, perbedaan pilihan politik tidak perlu sampai meretakkan hubungan sesama anak bangsa.

"Jangan mau dikompor-kompori para politikus. Rugi besar kita. Pakai akal jernih kita. Jangan sampai karena pilihan politik, kita menjadi tidak rukun," ujarnya menghadiri penyerahan sertifikat tanah kepada warga bekasi di Asrama Haji, Bekasi Selatan, Jawa Barat, Kamis (31/5).

Ia melanjutkan, menjelang pilkada maupun pilpres, berita hoaks dan fitnah biasanya tumbuh subur. Hal terjadi ketika Pilpres 2014 saat ia menjadi korban fitnah karena dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) serta anak pengusaha asal Singapura keturunan Tionghoa.

"Soal isu PKI, saya denger di bawah masih ada yang percaya. Saya itu lahir tahun 1961, PKI itu dibubarkan tahun 1965, saya kan masih balita, masak ada PKI balita," ujarnya disambut tawa ribuan masyarakat yang hadir.

Ia mengingatkan, meski hoaks sering berlawanan dengan logika, masyarakat tetap harus cerdas dan kritis. Pasalnya, tujuan utama hoaks ialah membunuh karakter seseorang dalam kontestasi pilkada maupun pilpres.

"Jangan sampai isu seperti ini dikembangkan hanya untuk membunuh karakter seseorang, baik untuk pemilihan bupati, wali kota, gubernur, dan presiden, enggak lah," tandasnya.

Di sisi lain, Presiden juga mengajak politisi turut mencerdaskan publik.

"Pilihan politik itu harus jernih, sehat, jangan dibawa pakai isu ras dan agama," ujar mantan Wali Kota Solo itu.

Masyarakat, ujar Jokowi, harus menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan total penduduk mencapai 263 juta jiwa yang tersebar di 17 ribu pulau. Selain besar, Indonesia majemuk karena memiliki 714 suku dan 1.100 bahasa daerah.

Karena besar dan beragam, tutur Jokowi, penyelenggaraan pesta demokrasi di Indonesia selalu memakan biaya besar. Karena mahal, ia berharap masyarakat saling menjaga kerukunan. Sebab, jika masyarakat terpecah belah akibat pesta demokrasi, kata Jokowi, kerugiannya sangat besar. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya