Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengungkapakan saat ini ISIS sudah menjadikan propaganda hubungan keluarga sebagai seruan dalam menjalankan terornya. Propaganda tersebut di galangkan oleh ISIS dengan mendorong adanya peranan perempuan.
"ISIS dari awalnya mengarahkan propaganda terhadap keluarga dan mengajak keluarga berhijrah ke khilafah. Ada peranan untuk semua perempuan bisa menjadi ustadzah, anak-anak dilihat sebagai anak singa yang bisa dilatih untuk nanti jadi tentara," ujarnya melalui pesan singkat kepada Media Indonesia, Rabu (16/5).
ISIS meminta kepada seluruh pengikutnya untuk hijrah ke Suriah supaya seorang ayah bisa bertempur dan ibu bisa melahirkan anak, mengajar, dan mengobati yang terluka, dan anak-anak bisa tumbuh dalam negara Islam yang sesungguhnya.
Jones pun mengatakan bahwa teror yang terjadi di Surabaya beberapa waktu yang lalu memiliki keterikatan dengan ISIS. Hal tersebut ia ungkapkan melihat pelaku merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang pro akan gerakan ISIS.
"Ya, ada pengaruh ISIS, karena yang 3 keluarga ini adalah anggota pengajian yang pro-ISIS, walaupun mereka sendiri tidak pernah ke Suriah," ujarnya.
Saat ditanya terkait motif baru ini ia belum bisa memastikan karena perlu adanya kajian lenjutan. Namun dirinya merekomendasikan kepada pemerintah untuk dapat memetakan jaringan pro-ISIS dan memperhatikan jaringan keluarga mereka.
"Deradikalisasi harus juga masuk ke persoalan keluarga secara keseluruhan," katanya.
Di waktu terpisah, pengamat dari Istitute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengungkapkan saat ini terjadi pergeseran peran perempuan dalam konteks keluarga sebagai ibu dalam aksi-aksi teror.
Hal itu dilatarbelakangi karena perempuan memiliki ikatan yang lebih dekat khusunya dalam memanipulasi anak-anak mereka agar ikut terlibat dalam aksi-aksi teror. Untuk itu dirinya menyarankan agar peyuluhan antisipasi tindakan radikal dapat dimulai dari lingkungan keluarga.
"Ada pergesaran dari awalnya hanya sebagai pendorong saat ini menjadi pelaku aktif karena kaum perempuan khusunya ibu lebih bisa memanipulasi anak-anak dalam konteks teror ini," ujarnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved