Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH diminta lebih tegas dalam mengambil sikap menghadapi terorisme. Memberantas berbagai bentuk intoleransi, sekecil apa pun itu menjadi penting bila perdamaian dalam keberagaman ingin diwujudkan.
"Karena terorisme itu bisa dibaca dan kemudian dicegah sejak dini. Asal pemerintah mengambil langkah cepat dalam menyikapi terorisme ini," ujar Ketua Setara Institute, Hendardi, di Wahid Foundation, Jakarta, (15/5).
Hendardi mengatakan, intoleransi merupakan hal awal dari terbentuknya terorisme. Sayangnya, Pemerintah Indonesia seperti tidak menyadari atau cenderung mengabaikan hal itu. Bahkan tidak jarang, intoleransi justru dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab di dalam pemerintahan untuk melancarkan kepentingan pribadinya.
"Elite kita jarang berupaya membenahi praktik intoleransi. Elit kita adalah elit yang tidak dewasa," ujar Hendardi.
Ia juga menyayangkan lambannya DPR dalam menyusun RUU Terorisme. Hal itu mengisyaratkan elite politik Tanah Air masih lebih memberatkan kepentingan pribadi dan golongannya dibandingkan masyarakat.
Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Abdul Moqsith Ghozali, mengatakan, siapa pun yang terlibat dalam terorisme merupakan orang yang telah salah dalam memahami Alquran. Apa yang dilakukan mereka jelas salah, karena dalam syariat perang di Islam dilarang untuk melibatkan perempuan dan anak-anak.
"Istri Nabi Muhammad maupun para sahabat-sahabatnya tidak pernah dilibatkan dalam perang. Selain itu, tidak ada alasan untuk berperang seperti yang diklaim oleh para pelaku teror dan kelompok radikal saat ini, karena dulu perang dalam Islam dilakukan adalah untuk pertahanan diri," ujar Moqsith.
Sementara itu, di kesempatan yang sama, puluhan tokoh yang terdiri atas perwakilan 55 kelompok masyarakat dan 20 individu berkumpul menyuarakan gerakan untuk melawan terorisme. Tokoh masyarakat lintas agama, profesi, dan budaya tersebut memberikan pernyataan sikap yang dibacakan secara bergantian oleh perwakilan tokoh.
"Kami Gerakan Warga Lawan Terorisme yang terdiri dari tokoh lintas iman, lintas profesi, dan masyarakat adat mengutuk keras tindak kejahatan terorisme. Kami juga menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban dan keluarga," ujar Shinta Nuriyah Wahid.
Beberapa tuntutan yang disampaikan di antaranya ialah mendukung penuh sikap aparat penegak hukum dan pemerintah untuk segera menghentikan teror dan menindak tegas para pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam aksi teror. Serta mendorong pemerintah untuk memastikan pemulihan yang efektif kepada para korban dan keluarganya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved