Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TERORISME tidak harus ditangani dengan mengangkat senjata atau menekan dengan kekerasan. Namun, penanggulangan terorisme juga bisa dilakukan dengan pendekatan lunak seperti turut menghadirkan suasana kekeluargaan bagi mantan pelakunya.
Hal itulah yang ingin disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam pertemuan negara-neraga global dalam Internasional Global Counter Terrorism Forum (GCTF) di Nusa Dua Bali, kemarin. BNPT ingin menularkan cara pendekatan lunak dalam menangani terorisme.
Dalam kegiatan bertajuk The Second Regional Workshop on Initiative on Addressing the Challenge of Returning Families of Foreign Terrorist Fighters (FTF) itu, BNPT menyampaikan pengalamannya dalam menangani FTF dengan pendekatan lunak selama ini.
"Workshop GTCF ini membahas berbagai isu terorisme dan fokusnya tentang returness dan keluarga FTF. Indonesia kebetulan punya pengalaman masalah itu sehingga kami akan sharing dengan mereka," ujar Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius, seusai membuka workshop itu, kemarin.
Suhardi mengungkapkan saat ini sudah lebih 600 returness FTF dan keluarganya yang kembali dari Suriah. Sepintas, hal ini bisa menjadi ancaman karena mereka sudah pernah tercuci otak untuk melakukan tindakan radikal sesuai paham ISIS, namun BNPT berpandangan lain.
"Kalau tidak dimonitor dan diperhatikan, tentu bisa menjadi ancaman, apalagi tidak hanya fighter-nya saja, tapi ada keluarganya, yaitu istri dan anak sehingga harus ada penanganan khusus," lanjutnya.
Menurut Suhardi, BNPT sudah beberapa kali memulangkan keluarga FTF dari Turki ke Indonesia. Mereka tetap ditangani secara intensif bersama stakeholder lain seperti Kementerian Sosial dan kepolisian agar tidak merasa dimarginalkan.
"Artinya, mereka harus disentuh dan terus dilakukan upaya untuk mereduksi tingkat radikal mereka sehingga nantinya bisa kembali di tengah masyarakat dan bisa ber-reintegrasi secara sosial," katanya.
Pencegahan
Suhardi menambahkan pertemuan ini merupakan lanjutan dari forum-forum sebelumnya. Bertindak sebagai tuan rumah kegiatan ini adalah Amerika Serikat dan Belanda, sedangkan Indonesia turut menjadi pengundang.
Forum GCTF sebelumnya digelar di Abu Dhabi, Belanda, dan New York. Setelah di Bali, GCTF akan bersidang lagi di Kantor Badan PBB untuk Penanggulangan Terorisme di New York. Kepala BNPT Suhardi Alius rencananya akan hadir juga di forum itu.
Ia menambahkan dalam menghadapi tantangan penanggulangan terorisme, pemerintah Indonesia saat ini sedang merevisi undang-undang antiterorisme. Selain itu, pihaknya berharap pertemuan itu dapat memperkuat kerja sama antarnegara dalam menghadapi tantangan terorisme ke depan.
"Hal ini kami lakukan untuk menghadapi FTF maupun anggota keluarganya secara efektif dan efisien." ujarnya.
Sementara itu, Kapolda Bali Irjen Petrus R Golose menyampaikan ucapan terima kasih kepada BNPT yang sudah menginisiasi program GCTF ini. Menurutnya, Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia memang perlu mengetahui langkah pencegahan hingga penanganan terorisme.
(P-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved