Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TAGAR atau hastag (#) di media sosial yang belakangan marak disuarakan masyarakat merupakan perubahan kontekstual dalam hal sosial politik. Dinamika itu semakin santer terdengar apabila dalam realitasnya ada korelasi antara demokrasi di dunia nyata dan siber demokrasi.
Analis komunikasi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto mengemukakan itu disela-sela diskusi Politik Tagar Bikin Gempar, di Cikini, Jakarta, Sabtu (5/5). Menurutnya, siber demokrasi merupakan salah satu penanda terkait ekspresi kebebasan berpendapat, termasuk kebebasan untuk menentukan pilihan politik sesuai preferensi pilihan masing-masing.
"Nah, itu kemudian diekspresikan di dunia digital melalui sosial media atau web dan lain sebagainya, seperti tagar yang sebenarnya fenomena bisa saja," ujar Gun Gun Heryanto.
Ia menerangkan, pesan yang dilabeli tagar ialah ekspresi simbolik dari preferensi pilihan yang ada di masing-masing orang. Contohnya, ada yang tertarik 2019 nanti ganti presiden dan ada pula yang menghendaki petahana tetap melanjutkan tugas sebagai kepala negara.
"Tagar dalam konteks demokrasi bukan hal negatif. Tetapi itu merupakan hal positif karena bisa menggairahkan partisipasi politik warga negara. Partisipasi bukan hanya konvensional, namun nonkonvensional, seperti civic engagement. Jadi, merasa warga itu juga bagian yang bisa terlibat di dalam proses pemilu."
Gun Gun menilai parpol maupun relawan dan tim sukses justru ikut diuntungkan dengan pelbagai kanal yang tersedia. Selain murah dan meriah, penggunaan medsos juga dapat memobilisasi massa dengan luar biasa. Itu dapat menjadi ceruk potensial, apalagi saat ini jumlah pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 132 juta dari total 250 juta penduduk.
"Ini sebuah berkah kontestasi elektoral yang terfasilitasi, bukan hanya di mainstream media, bukan hanya face to face informal orang bertemu kemudian berjejaring dengan kelompok-kelompok masyarakat. Tetapi itu juga bisa menyapa orang yang berbeda melalui sosmed, antara lain hastag," kata dia.
Di sisi lain, sambung Gun Gun, penggunaan medsos pun penting untuk diantisipasi. Ia memandang sosmed selalu berwajah janus atau bermuka dua, yaitu penuh optimisme dan wajah lain di belakangnya justru dipenuhi kegelapan.
"Bahwa internet itu bisa mendinamisasi dan menjadi alat kampanye, publisitas, propaganda, yes. Tetapi di sisi lain juga harus antisipasi paradoks-paradoks yang bisa muncul, antara lain penyalahgunaan ekspresi yang begitu melimpah hingga memunculkan black propaganda, black campaign, yang kemudian basisnya bisa rumor, isu, gosip, pembunuhan karakter, intimidasi, dan persekusi," pungkas dia. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved