Emosi Jadi Faktor Timbulnya Hoaks

Tosiani
25/4/2018 08:50
Emosi Jadi Faktor Timbulnya Hoaks
Guru Besar Ilmu Komunikasi Unair Hennry Subiakto (kiri) disaksikan anggota Komisi III DPR Fraksi NasDem Akbar Faizal (tengah) dan dosen Jurusan Sosiologi FISIP UI Devi Rachmawati saat menjadi pembicara dalam forum group discussion (FGD)/ forum promoter, di(MI/M IRFAN)

MARAKNYA penyebaran berita bohong (hoaks) tidak terpe-ngaruh oleh tingkat pendidikan seseorang, tetapi lebih pada faktor psikologis dan emosional seseorang.

Di Amerika, produsen hoaks jauh lebih banyak. Hoaks pun tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan. Di Amerika juga sampai terjadi saling tembak akibat hoaks politik.

Sosiolog UI Devi Rachmawati pun membenarkan hal itu. Dalam focus group discussion (FGD) tentang keseriusan Polri dalam menangani hoaks, Devi mengatakan para pencipta media sosial seperti Facebook pernah kuliah psikologi sehingga tahu betul karakter manusia, di antaranya ingin hidup di keramaian serta cenderung ingin jadi pahlawan dengan menjadi yang pertama menyebarkan sesuatu.

"Jadi tidak melulu biologis, kadang hal sederhana. Juga level emosi. Kalau suatu berita sudah membuat marah atau sedih, mereka juga tidak ingin sendirian, guyub, dan dalam kerumunan," katanya.

Devi melanjutkan teman ialah orang yang membuatnya percaya. Ketika sesuatu informasi disebarkan teman, secara psikologis merasa sudah pasti itu benar.

"Ini masalah emosional yang disentuh oleh teknologi. Kita semua punya problem untuk berbagi hal positif, itu membuat kita terperosok dalam pusaran hoaks. Itu bukan persoalan IQ," ujar Devi.

Politikus asal NasDem, Akbar Faizal, yang ikut dalam FGD itu menambahkan bahwa para politikus dan semua yang berkecimpung di politik paling sering menjadi sasaran dan korban hoaks.

"Saya ialah korban. Politisi ialah sasaran objek material hoaks paling empuk. Ada empat poin, saya punya kekayaan US$25.000 juta, saya terima duit KTP-E, saya punya rumah di Perum Makassar. Lalu saya diberitakan punya istri simpenan di Bandung," kata Akbar.

Akbar mengaku heran bagaimana sese-orang bisa dengan mudah menghina dan menistakan orang lain. Padahal berita bohong sangat merugikan orang lain. "Saya seorang seniman yang berkiprah dalam politik. Harusnya saya jadi guru. Saya heran bagaimana ada seseorang yang menghina dan menistakan orang lain," kata Akbar.

Menurut Akbar, hoaks tidak semata kejahatan, tapi juga jadi bisnis sebab keuntungan dari menyebarkannya sangat besar. Ia menyebutnya sebagai industri kapital hoaks. Maka banyak orang merasa tidak bersalah melakukan itu karena berhubung-an dengan uang besar.

"Tulisan yang paling banyak, 62,10%, ialah tulisan yang sok tahu. Misal ngambil dari satu situs berita lalu diubah seenaknya sendiri. Makanya saya langsung cek kalau diwawancara wartawan."

Berhati jahat

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengakui penyebaran hoaks itu diciptakan orang pintar yang berhati jahat. Hoaks juga disebarluaskan orang-orang baik yang bodoh.

"Kesimpulan saya, hoaks diciptakan oleh orang pintar tapi jahat. Tapi yang parah, hoaks disebarluaskan oleh orang baik yang bodoh," ujar Setyo.

Setyo mengatakan saat ini banyak orang mengunggah sesuatu tanpa mengecek kembali. Pada 2017 Polri membentuk tiga sub satgas baru. Tugasnya melakukan patroli 24 jam sehari dan 7 hari seminggu tanpa henti, memantau semua yang terkait dengan ujaran kebencian. (P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya