Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKIPUN telah diusung secara resmi dalam Rakornas Partai Gerindra untuk berlaga dalam Pilpres 2019, Prabowo Subianto dinilai belum tentu maju sebagai calon presiden. Sejumlah kalangan melihat Prabowo masih mengulur waktu.
Menurut pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif lembaga survei Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, apa yang dilakukan Prabowo dan Gerindra dalam pilpres sama dengan yang selama ini dijalankan pada pilkada.
Dalam pola pilkada, deklarasi Gerindra dilakukan jauh-jauh hari. Akan tetapi, pada hari H atau saat injury time terjadi perubahan atau kompromi di panggung belakang dan terjadi perubahan nama.
Menurut Yunarto, jika Prabowo terus-menerus mengulur waktu, yang terjadi ialah kemunduran psikologis.
Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan pun melihat Prabowo masih mempertimbangkan sejumlah hal untuk maju. Pertama, Prabowo masih melihat perkembangan elektabilitas petahana Joko Widodo dalam beberapa bulan ke depan. Kalau elektabilitas Jokowi turun, peluangnya untuk maju menjadi lebih tinggi.
Kedua, Prabowo tengah mencari siapa calon wapres yang tepat. Selain yang dapat menaikkan elektabilitas, Prabowo butuh cawapres yang bisa mengambil suara dari Jokowi 4%-5%. "Cawapres seperti itu kan belum muncul. Ada yang potensial, Gatot dan Anies atau Cak Imin, tapi mereka belum punya kekuatan. Karena itu, perlu dilihat perkembangan sampai beberapa bulan ke depan."
Di sisi lain, peneliti CSIS Arya Fernandes memahami alasan Prabowo mengulur waktu. Arya menilai Prabowo ingin melihat terlebih dahulu kekuatan partainya di daerah yang menggelar Pilkada 2018.
Belum jelas
Prabowo Subianto menyatakan siap mengikuti Pilpres 2019. Hal itu ditegaskannya saat membuka Rakornas Gerindra di Padepokan Garuda Yaksa, Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat, kemarin.
Sebelumnya, 34 ketua DPD provinsi Partai Gerindra, 529 ketua DPC kabupaten, 2.785 anggota DPRD kabupaten/kota, 251 anggota DPRD provinsi, dan 73 anggota DPR RI secara bergantian menyampaikan aspirasi konstituen menginginkan Prabowo maju sebagai calon presiden.
Waketum DPP Partai Gerindra Fadli Zon menjelaskan deklarasi Prabowo capres belum dibicarakan. Untuk resmi diusung dibutuhkan dukungan parpol lain agar memenuhi syarat. PKS dan PAN yang dinilai dekat, menurut Fadli, memiliki mekanisme internal untuk memutuskan arah koalisi. Jika PAN atau PKS tidak berkoalisi, otomatis pencalon-an Prabowo terhambat.
Waketum Gerindra Arief Poyuono menambahkan selama ini belum ada hitam di atas putih PAN dan PKS koalisi dengan Gerindra. "Kertas untuk mengusung capres dan cawapres itu kan harus ada hitam di atas putihnya. Tidak hanya mengusung capres, harus ada nama cawapresnya."
Meski hadir dalam rakornas, Ketum DPP PAN Zulkifli Hasan membantah PAN mendukung Prabowo atau koalisi dengan Gerindra. "PAN masih terbuka koalisi dengan partai lain." Selain Zul, hadir Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais dan Sekjen PAN Eddy Soeparno. Zul dan Amien sempat naik kuda bersama Prabowo.
Dari PKS hadir Presiden PKS M Sohibul Iman. Politikus PKS Mahfuz Sidik yakin PKS akan koalisi dengan Gerindra. Namun, keputusan itu tidak diambil perseorangan.(Nov/Pol/Sru/Nur/X-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved