NU Ingatkan Politisi Jangan Jualan Agama

Nur/P-4
11/4/2018 08:15
NU Ingatkan Politisi Jangan Jualan Agama
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua dari kanan) bersama Direktur Utama PT Kanisius Romo Aziz Mardopo (kanan), rohaniwan Romo Benny Susetyo (kiri), dan Wakil Ketua PBNU Mochammad Maksum memperlihatkan buku saat peluncuran dan diskusi buku NU Penjaga N(MI/RAMDANI)

SEBAGAI sebuah organisasi dan bukan bagian dari partai politik, Nahdlatul Ulama (NU) tidak lantas memisahkan diri dari hiruk-pikuk dunia politik. Justru, NU memposisikan diri sebagai pengawas dan penjaga NKRI dengan mengusung jargon politik kebangsaan.

"Karena politiknya kebangsaan maka NU berada pada posisi yang menjadi pengawas dan penjaga. Menjaga agar para aktor politik tidak kemudian menggunakan kekuasaan politik untuk kepentingan ke-lompoknya sendiri," kata Direktur SAS Institute, M Imdadun Rahmat, seusai peluncuran dan diskusi buku NU Penjaga NKRI di Gedung PBNU, Jakarta, kemarin.

Tak hanya itu, lanjut Imdadun, NU pun mempunyai peran untuk mengingatkan aktor politik yang tengah berkompetisi agar tidak menggunakan cara-cara yang negatif dalam meraih dukungan politik. "NU dari dulu konsisten untuk mengingatkan itu," tambahnya.

Lebih lanjut, Imdadun menyampaikan bahwa NU dapat membedakan antara urusan politik dan urusan agama. NU pun tidak pernah menggunakan agama untuk kepentingan politik.

Menurut Imdadun, nilai-nilai agama tetap harus mewarnai pengambilan keputusan politik, tapi bukan pada proses perebut-an politiknya. Agama, sambungnya, harus hadir dalam proses untuk menjaga politik tetap menggunakan cara-cara yang baik.

"Bukan agama dipakai untuk pembusukan demokrasi," ucapnya.

Sementara itu, peneliti LIPI Amin Mudzakkir mengatakan bahwa agama dan politik tidak bisa dipisahkan, tapi bisa dibedakan. Menurutnya, NU mampu membedakan mana urusan politik dan mana urusan agama. Hal tersebut tampak saat NU mengadvokasi antara kelompok Ahmadiyah dan Syiah.

"Jadi, NU ketika mengadvokasi ini mampu membedakan mana hal yang sifatnya agama dan politik, enggak dicampur-campur," kata Amin.

NU, sambungnya, mampu menunjukan kemampuannya untuk mencari titik tengah antara kecenderungan sekularistik yang melihat agama sebagai masalah dan islamistik yang melihat agama sebagai solusi. Dalam mengadovakasi isu minoritas, NU tidak hanya menggunakan justifikasi keagamaan, tapi juga pendekatan sosial umumnya.

"NU berusaha tidak ke dua-duanya, dia tidak memisahkannya, tapi juga tidak mengintegrasikan," terang Amin.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj bersyukur dengan terbitnya buku yang berjudul NU Penjaga NKRI tersebut. Ia berharap buku tersebut dapat bermanfaat bagi publik.

"Mudah-mudahan bermanfaat buku ini. Mudah-mudahan semua melek tentang peran NU," pungkasnya.(Nur/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya