Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR hukum tata negara Mahfud MD menilai sebagian besar penyerangan pada tokoh agama bohong atau hoaks. Namun, ada juga penyerangan ulama dengan motif perselingkuhan, operasi intelijen swasta, orang gila, dan persaingan politik.
Hal itu dikatakan Mahfud saat berbicara dalam diskusi publik di PTIK dengan tema, Siapa di balik penyerangan ulama, kriminal murni atau rekayasa?, kemarin.
Mahfud mengungkapkan, dulu di Bondowoso ada seorang istri ulama yang berselingkuh dengan sopir, lalu suaminya dibunuh, jasadnya disimpan sampai dua tahun. Rois Am PB NU juga pernah dihajar orang gila.
''Lalu ada operasi intelijen. Dari keyakinan publik tahun 1998, terjadi kekerasan politik sebelum jatuhnya Soeharto. Juga ada kontestasi politik, intelijen swasta, tidak ada kaitan dengan pemerintah, karena persaingan politik. Berita hoaks juga luar biasa, tampaknya untuk adu domba. Korban tidak hanya ulama," kata Mahfud.
Dalam menyikapi hal itu, Mahfud menilai polisi harus profesional dan segera meng-ungkap kasus ini.
Mahfud juga meminta hukum harus ditegakkan meskipun langit akan runtuh.
KH Amas Mansur, adik seorang ulama di Jabar yang menjadi korban penganiayaan, yakni KH Umar Basri, menambahkan untuk kasus ini tidak ada saksi dalam kasus penyerangan itu.
Ia menceritakan, ketika itu pada 7 Januari seusai salat subuh, saat sudah tidak ada orang, sehingga tidak ada saksi. Sekitar pukul 05.45 WIB ada santri yg mau salat subuh. Listrik kemudian dimatikan dan mendapati korban sudah bergeser dari tempatnya semula dalam kondisi berlumuran darah.
"Santri itu langsung memberi tahu santri lainnya dan kakak saya dibawa ke rumah sakit. Waktu lapor pertama ke polsek, juga dalam keterangan tidak ada yang menyaksikan. Kapolsek menanyakan barangkali ada yang janggal sebelumnya," kata dia.
Dibuktikan
Pengamat Intelijen/BIN Wawan Purwanto mengusulkan kepada masyarakat untuk membuktikan anggapan ada yang mendesain penyerangan tokoh agama oleh orang-orang gila. "Silakan dibuktikan. Ja-ngan mudah terprovokasi," katanya.
Wawan meyakini dari intelijen tidak ada perintah agar intelijen melakukan penyerangan itu.
Intelijen malah kena imbas dari semua kejadian serangan itu. Seperti berkurangnya kepercayaan pada BIN dan pemerintah.
"Ini deviasi. Kepercayaan jadi berkurang. Kalau ada dugaan aktor yang menggunakan orang gila untuk menghindari tuntutan hukum. Pasti ada celah, tidak ada kejahatan yang sempurna."
Kepala Satgas Nusantara Irjen Gatot Edhi Pramono menyatakan sedikitnya ada 12 polda dengan tingkat penyebaran hoaks dan ujaran kebencian melalui media sosial yang tergolong tinggi.
12 polda tersebut di antara-nya Sumut, Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Kalbar, Kaltim, dan Sulsel.
"Itu hasil dari siber patroli media sosial. Kita akan beri pencerahan pada masyarakat mengenai literasi digital. Kita akan kerja sama dengan Kominfo memberi literasi digital pada para Babinkamtibmas, lalu diteruskan pada masyarakat," ujar Gatot.
Menurut Gatot, hoaks ini penyebarannya sangat tinggi. Dari sekian banyak kasus penganiayaan tokoh agama, kebanyakan ialah hoaks. Selama ini Polri sudah bekerja profesional dan tidak berpihak pada siapa pun dan tidak di bawah kepentingan golongan. Polri juga mengedepankan tindakan preventif 80% dan 20% tindakan hukum.(P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved