Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEIRING dengan semakin dekatnya pendaftaran calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2019 yang tinggal empat bulan lagi (4-10 Agustus), tensi politik terus memanas.
Semua bakal capres dan cawapres bergerak dengan cara masing-masing. Begitu pun dengan para pendukung. Mereka tak kalah sibuk membuat manuver bahkan kegaduhan.
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang resmi pensiun sebagai prajurit pada 1 April 2018 menyatakan kesediaan apabila diminta masyarakat untuk melanjutkan pengabdian kepada Ibu Pertiwi.
"Apabila Republik ini menghendaki dan rakyat percaya, kenapa tidak. Jadi, itu merupakan tugas bagi saya. Saya tidak boleh lari dan akan saya pertanggungjawabkan apa pun risikonya," ujar Gatot kepada Metro TV, kemarin.
Saat ditanya soal kemung-kinan bergabung dengan partai politik, pria lulusan Akademi Militer 1982 itu menegaskan bahwa untuk saat ini tidak akan masuk parpol. Namun, lanjut Gatot, ia memang ditawari masuk Partai Gerindra oleh Prabowo Subianto.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Sidik mengatakan Gatot Nurmantyo berpeluang menjadi kuda hitam dalam Pilpres 2019. Menurutnya, secara kepribadian, pemikiran, dan patriotisme, Gatot bisa disebut sebagai pelanjut Prabowo.
"Sosok Prabowo dan Gatot, kalau dalam sejarah yang diceritakan kitab suci, seperti Thalut dan Daud. Mereka akan ada dalam saf perjuangan yang sama dan akan menunjukkan kekuatan dahsyat," ujar mantan Ketua Komisi I DPR itu.
Namun, kata dia, garis politik Gatot akan dipengaruhi keputusan sejarah yang akan diambil Prabowo. "Sangat mungkin kejutan politik akan muncul bila dua tokoh ini sudah bertemu secara khusus."
Berdasarkan survei yang dilansir Polcomm Institute pekan lalu, nama Gatot sudah mulai muncul. Elektabilitasnya sebagai cawapres mencapai 18,92%.
Dongkrak elektabilitas
Terkait dengan manuver Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhir-akhir ini, Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Bandung Muradi mengatakan Prabowo tengah berusaha mengatrol elektabilitasnya yang masih tercecer jauh dari Presiden Joko Widodo sebagai petahana.
"Prabowo sedang panik dengan menyerang pemerintah untuk menarik perhatian publik," ujar Muradi, tadi malam.
Selain itu, kata dia, Prabowo juga membutuhkan perhatian dari parpol. "Koalisi 2014 lalu sudah pecah. PKS sebagai mitra kuat juga tengah bermanuver dengan memunculkan 9 cawapres," papar Muradi.
Ia memprediksi peluang Prabowo kian mengecil jika Gatot resmi membuka diri menuju Pilpres 2019. Apalagi publik dapat melihat kualitas isu yang dilempar Prabowo ternyata banyak yang tak berkualitas.
"Dia akan tamat kalau Gatot bersedia dicalonkan. Maka mari kita lihat survei April ini untuk melihat dampak dari kampanye negatif Prabowo. Publik tahu kok kualitas kritikannya."(Pol/TB/X-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved