PKS: Jika Prabowo Maju Untuk Menang, Bukan Ulangi Kekalahan

M. Taufan SP Bustan
01/4/2018 09:55
PKS: Jika Prabowo Maju Untuk Menang, Bukan Ulangi Kekalahan
(ANTARA/Ardiansyah)

HINGGA kini Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerinda) belum mendeklarasikan diri untuk mengikuti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Namun, jika Prabowo kembali maju harus dipertimbangkan secara matang peluangnya untuk menang, bukan sekedar untuk mengulangi kekahalan.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfuz Sidik mengaku, memang tidak mudah bagi Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu untuk memutuskan lagi akan maju atau tidak di Pilpres.

Pasalnya, lanjut dia, itu akan jadi kontestasi yang ketiga kalinya. Di mana, kesiapan logistik dan tingkat kemenangan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun ini akan jadi pertimbangan penting Prabowo.

“Tapi menurut saya dengan trend elektabilitas Gerindra yang naik, maka pertarungan Pilpres harus dikalkulasi agar peluang menang besar,” terang Mahfuz kepada Media Indonesia di Jakarta, Minggu (1/4).

Ia menambahkan, artinya keputusan Prabowo maju karena adanya peluang menang besar, bukan maju untuk mengulang kekalahan. “Dan prinsip itu juga berlaku untuk partai yang berkoalisi dengan Gerindra,” imbuh Mahfuz.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Indobarometer, Muhamad Qodari menyebutkan, Prabowo Subianto seharusnya sudah mendeklarasikan keikutsertaannya di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sehingga tidak merugikan diri sendiri.

“Ya, kalau dia (Prabowo) masih berlama-lama pastinya akan rugi,” akunya di kawasan Cikini, Jakarta, belum lama ini.

Qodari menyebutkan, ketika Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu terus mengulur waktu untuk mendeklarasikan dirinya ikut Pilpres, bisa menimbulkan poros ketiga. “Jika demikian yang rugi ya Prabowo,” tegasnya.

Memang lanjut Qodari, poros ketiga yang timbul diperbincangkan masyarakat baru wacana, namun patut untuk diwaspadai karena bisa saja menjadi penantang serius dalam Pilpres nanti.

“Kalau terjadi berarti poros ketiga itu penantang baru. Sejauh ini kan yang diketahui Joko Widodo yang merupakan incumbent akan melawan Prabowo, nah kalau ada poros ketiga berarti suara pemilih terpecah,” tandasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya