Mengubur Poros Ketiga

Gaudensius Suhardi
10/3/2018 18:49
Mengubur Poros Ketiga
(ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

POROS ketiga di Pemilihan Presiden 2019 tampaknya mati sebelum berkembang. Perlu keajaiban?

Elite Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN) bertemu membahas poros ketiga pada Kamis (8/3). Tiga partai itu bisa mengusung calon presiden.

Mereka memenuhi syarat 20% kursi di DPR untuk mengusung calon presiden. Demokrat saat ini memiliki 61 kursi atau 10,9% kursi DPR, kemudian PAN punya 48 kursi atau 8,6% kursi DPR. Jika ditambah PKB, yang memiliki 47 kursi atau 8,4% kursi DPR, jumlahnya menjadi 156 kursi atau 27,9%.

Akan tetapi, hanya selang dua hari kemudian, peta politik pun berubah. Perubahan peta politik terjadi pada saat Presiden Joko Widodo menghadiri Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3).

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sinyal untuk mendukung Presiden RI Joko Widodo pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

"Pak Presiden ( Jokowi). Jika Allah menakdirkan, senang partai Demokrat bisa berjuang bersama bapak," ucap SBY.

Presiden Jokowi pada kesempatan itu menyebut dirinya seorang demokrat, bukan otoriter.

"Artinya saya dan Pak SBY ini sebenarnya beda-beda tipis banget. Kalau saya seorang demokrat, kalau Pak SBY tambah satu, Ketua Partai Demokrat. Jadi bedanya tipis," ujar Jokowi.

Berbalas pantun politik antara SBY dan Jokowi ditafsir publik sebagai makin cairnya hubungan di antara keduanya. Bahkan, bukan tidak mungkin Demokrat berada dalam satu perahu dengan koalisi pendukung Jokowi atau poros pertama.

Jokowi didukung oleh PDIP (109 kursi/19,4% kursi DPR), NasDem (36 kursi/6,4% kursi DPR), Golkar (91 kursi/16,2% kursi DPR), PPP (39 kursi/7% kursi DPR), dan Hanura (16 kursi/2,9% kursi DPR). Totalnya adalah 291 kursi atau 52% kursi di DPR.

Jika Demokrat bergabung, Jokowi akan didukung 352 kursi di DPR atau 62,9%. Itu artinya poros ketiga gugur dengan sendirinya, karena PAN dan PKB hanya 17% atau tidak memenuhi syarat untuk mengajukan calon presiden sendiri.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan pun tahu diri. Kata dia di Makassar, Sabtu (10/3), poros ketiga perlu keajaiban. Karena itulah, Zulkifli memprediksi Pilpres 2019 hanya diikuti dua poros.

Poros kedua ialah pendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan partainya sudah pasti berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Pilpres 2019.

Gerindra dan PKS memenuhi syarat mengusung calon presiden. Gerindra memiliki 73 kursi atau 13% kursi DPR, PKS mempunyai 40 kursi atau 7,1% kursi DPR. Total mereka punya 20,1% atau 113 kursi di DPR.

Jika Pilpres 2019 hanya diikuti Jokowi dan Prabowo, itu artinya mengulangi sejarah Pilpres 2014. Pada saat itu, Jokowi keluar sebagai pemenang.

Andai poros ketiga dikubur karena mati sebelum berkembang, terpenuhilah pepatah Prancis, l’histoire se répète, yang berarti sejarah akan berulang. Pilpres 2019 mengulangi sejarah Pilpres 2014. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya