Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR lima bulan menjelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden, konstelasi politik masih dapat berubah. Meski saat ini bursa capres masih bercabang menjadi dua, yakni Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, masih ada peluang munculnya poros ketiga.
Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, ada beberapa partai koalisi yang komitmennya belum kuat mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019.
"PKB belum bersikap. PPP sudah mendukung, tapi bisa berubah jika cawapres bukan berasal dari mereka. PKB juga bisa demikian," ujar Gun Gun ketika dihubungi, kemarin.
Secara terpisah, Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Bandung Muradi berpendapat langkah PKB yang belum menentukan sikap lantaran untuk menaikkan posisi tawar. Ia pesimistis pada akhirnya PKB akan membentuk poros ketiga.
"PKB ini hanya ngambek sebenarnya, pingin diperhatikan. Tidak betul-betul mau bikin poros ketiga. Kalau PKB di poros Jokowi, tidak mungkin ada poros ketiga sebab Demokrat dan PAN tidak bisa membuat koalisi karena enggak cukup 20%," tandasnya.
Meski belum mengumumkan kesediaannya untuk kembali maju dalam Pilpres 2019, Jokowi sudah mengantongi lima dukungan partai, yaitu Partai Golkar, Hanura, NasDem, PDIP, dan PPP. Kapitalisasi dukungan tersebut mencapai 51,78%, atau melampaui syarat ambang batas 20%.
Sebelumnya, Ketua DPP PKB Muhammad Lukman Edy mengaku PKB sudah menawarkan Muhaimin Iskandar agar menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi atau Prabowo. Lukman tidak menampik ada rencana pertemuan antara Cak Imin--sapaan akrab Muhaimin--dan Prabowo. Namun, ia belum dapat memastikan waktu dan tempat pertemuan di antara keduanya.
Memilih pasif
Penantang Jokowi juga belum solid. Nama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang paling kuat muncul menjadi capres. Adapun bursa calon wakil presiden lebih ramai dengan banyaknya nama tokoh yang diangkat, termasuk mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.
Mahfud menanggapinya dengan santai. Ia memilih bersikap pasif. "Pokoknya saya tidak akan aktif untuk mengerjakan hal-hal seperti itu (pencapresan)," kata dia di Kompleks Kepatihan, kemarin.
Menurut Mahfud, terlibat dalam proses pengusulan capres ataupun cawapres terlampau banyak menguras energi. Ia mengaku hal itu sudah ia alami dalam Pilpres 2014.
"Sekarang, silakan orang yang mengapitalisasi, saya biar tidur enak saja. Dulu sering tidak tidur karena mengerjakan itu, sekarang tidur saja," ujar Mahfud sambil tersenyum.
Mahfud menyebut sekarang banyak yang ingin jadi wakil presiden. Ia pun enggan menanggapi berbagai survei tentang nama-nama yang akan maju dalam Pilpres 2019 kendati saat ini sudah ada yang membeli tukang survei agar namanya dipasang.
"Ya sudah tidak ingin saja. Kan tidak harus ada alasan," kata dia.
Mahfud hanya ingin bekerja secara profesional dan mendorong agar negara ini menjadi lebih baik.(AT/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved