Poros Ketiga Sulit Terwujud

Dero Iqbal Mahendra
05/3/2018 08:38
Poros Ketiga Sulit Terwujud
(MI/Susanto)

MESKIPUN kehadiran poros ketiga pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019 dimungkinan secara matematika politik tetapi pada praktiknya hal itu sulit terwujud.

Pasalnya, lebarnya perbedaan elektabilitas pasangan calon pertama dan kedua dengan pasangan calon ketiga.

Demikian analisis Direktur Eksekutif Indobarometer, Muhammad Qodari, sebagaimana disampaikan kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

"Kini, sudah lima partai politik mendukung Joko Widodo. Dua partai lain, yakni Gerindra dan PKS mendukung Prabowo Subianto. Demokrat, PAN, dan PKB sebetulnya bisa mengajukan pasangan capres-cawapres karena gabungan jumlah suara ketiganya lebih dari 20%," kata Qodari.

Masalahnya, dalam skenario itu apakah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mau mengajukan Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo selain Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)? Apabila mengajukan AHY, apakah PKS dan PAN mau menjadi cawapres? Pun seandainya Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar maju sebagai cawapres, apakah PAN mendukung? Begitu sebaliknya apabila Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menjadi cawapres apakah didukung PKB?

"Oleh karena itu, saya melihat ketiga partai itu akan mengerucut kepada salah satu calon baik itu Jokowi maupun Prabowo. Jadi, kemungkinan kecil adanya poros ketiga dalam Pipres 2019. (Parpol) perlu becermin pada Pemilu 2009 di mana pasangan calon ketiga dimunculkan walaupun elektabilitasnya rendah," ujar Qodari

Konsolidasi partai

Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar atau Cak imin enggan menjelaskan rencana partainya membuat poros baru di Pilpres 2019 jika gagal menjadi pendamping Jokowi atau Prabowo.

"Itu inisiatif teman-teman yang ingin demokrasi ini dinamis. Kami saling mendoakan. PKB belum mengambil sikap," ung kap Cak Imin di Jombang, Sabtu (3/3).

Menurut Cak Imin, dari sejumlah parpol yang bertemu dengannya, beberapa di anaranya mengajak melakukan perubahan sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Juga para kyai dan ulama.

Di sisi lain, Partai NasDem bertekad memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di depan ribuan kader yang mengikuti konsolidasi struktur partai, komisi saksi, dan bakal calon legislatif Partai NasDem se-Jawa Barat, kemarin.

"Beliau bekerja. Sekarang banyak mengalir dukungan dari partai politik dan masyarakat. Seluruh kader harus bekerja serius. Jangan biasa-biasa saja kalau melihat target besar," kata Surya.

Pilpres 2019 membutuhkan 850 ribu tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh Indonesia. Jauh lebih banyak dibanding lima tahun silam, yaitu 570 ribu TPS.

"Berarti diperlukan 2,5 juta orang untuk menjadi saksi. Kita kehilangan 2 juta suara pada Pileg 2014 akibat ketiadaan saksi di banyak TPS," tandas Surya. (Deo/TS/AD/BY/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya