Empat Kriteria Pendamping Jokowi

Christian Dior Simbolon
01/3/2018 07:14
Empat Kriteria Pendamping Jokowi
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

ADA empat hal pokok yang menjadi pertimbangan untuk menetapkan siapa calon wakil presiden (cawapres) yang pantas mendampingi calon presiden (capres) Joko Widodo dalam bursa Pilpres 2019.

Demikian ungkap politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin, menanggapi hasil survei terkini yang dirilis Populi Center terkait preferensi publik terhadap cawapres pendamping Jokowi kelak.

"Pertama, calon pendamping Joko Widodo harus bisa ikut meningkatkan elektabilitas. Seandainya nanti menjelang Pilpres 2019 elektabilitas Jokowi menurut survei belum aman, penetapan calon pendamping dengan elektabilitas tinggi menjadi rasional," kata Ara, sapaan akrab Maruarar.

Kedua, lanjut Ara, masalah kecocokan. Pada Pilpres 2009 misalnya, SBY bisa leluasa memilih Boediono bukan karena ditopang elektabilitas yang tinggi. "SBY pilih Boediono karena nyaman dan bisa bantu pemerintah."

Ketiga, perpaduan antara variabel pertama dan kedua. Keempat, Jokowi bakal memilih pendamping yang dapat melanjutkan visi kepemimpinannya pada 2024. Artinya, cawapres itu dapat diproyeksikan pada Pilpres 2024. "Ini penting agar yang sudah dibangun Jokowi bisa lanjut dan tuntas."

Elektabilitas rendah

Dalam survei terakhir yang dirilis Populi Center, elektabilitas Jokowi pada skema top of mind mencapai 52,8%. Pesaing terdekatnya, yakni Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, meraup suara 15,4%.

"Elektabilitas calon lain di bawah 1%. Ini menunjukkan belum ada calon alternatif selain Jokowi dan Prabowo," ujar peneliti Populi Center Hartanto Rosojati saat memaparkan hasil survei, kemarin.

Survei pada periode 7-16 Februari itu melibatkan 1.200 responden. Metodenya menggunakan multistage random sampling dengan teknik wawancara tatap muka. Margin of error sekitar 2,89% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Dalam surveinya kali ini, Populi pun merekam preferensi publik di bursa calon wakil presiden (cawapres). Pada skema top of mind, Wakil Presiden Jusuf Kalla menempati peringkat pertama dengan elektabilitas 15,3% disusul mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo (7,3%), Gubernur DKI Anies Baswedan (3,4%), dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (3,3%).

Selain itu, survei Populi juga mengukur elektabilitas setiap pasangan capres dan cawapres. Pada skema ini, duet Jokowi-Sri Mulyani meraih elektabilitas 57,3% disusul Jokowi-Airlangga Hartarto 54,3%. Pada sisi lain, Prabowo-Anies dipilih responden di kisaran 27,8%-28,8%.

Simulasi Populi juga menyandingkan Jokowi dengan AHY dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Duet Jokowi-AHY meraup 50,8%, sedangkan elektabilitas Jokowi-Cak Imin 50,6%.

"Dua simulasi pasangan ini unggul jika dibandingkan duet Prabowo-Anies yang meraup suara 27,8%," ungkap Hartanto.

Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menyerahkan sepenuhnya keputusan cawapres di Pilpres 2019 kepada Jokowi. "NasDem sudah memilih capres, Jokowi. Saya tidak tidak akan menyodorkan nama karena seluruh keputusan cawapres diserahkan kepada Jokowi."(LN/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya