Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERLU waktu hampir sebulan bagi kepolisian untuk bersikap terkait dengan penyerangan terhadap tokoh agama dan rumah ibadah yang terjadi pada rentang 27 Januari-13 Februari 2018.
Padahal rangkaian peristiwa itu tergolong amat sensitif karena menyasar rumah peribadatan dan pemuka agama yang dihormati umat.
Wajar apabila Ketua DPR Bambang Soesatyo mengutuk keras semua aksi kekerasan yang ditujukan kepada ustaz, pastor, dan rumah ibadah tersebut (lihat grafik).
"Tindakan kekerasan kepada pemuka agama tidak dibenarkan dalam hukum ataupun ajaran agama. Polisi harus serius mengusut dan membongkar latar belakang penyerangan. Saya khawatir ada pihak yang memprovokasi warga sehingga mencederai kerukunan dan kedamai-an," kata Bambang, kemarin.
Selanjutnya, Ketua DPR mengimbau warga tidak terpancing atas tindakan itu. "Tidak ada dasar agama maupun budaya yang mendidik kita melakukan tindakan kekerasan apalagi mengaitkan ini dengan isu SARA."
Wakapolri Komjen Syafruddin kemarin menggelar konferensi video dengan perwira tinggi dan seluruh kapolda di Mabes Polri, Jakarta. Rapat tertutup itu membahas antisipasi dampak penyerangan beberapa tokoh agama dan rumah ibadah dalam sebulan belakangan ini.
Menurut Syafruddin, kepolisian memfokuskan penjagaan tempat ibadah dan tokoh-tokoh agama. Selanjutnya, Wakapolri akan datang ke Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur untuk memberikan instruksi langsung kepada aparat.
"Penganiayaan kepada tokoh agama sudah berkembang menjadi isu yang tidak benar," ujar Syafruddin.
Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menambahkan Polda Jatim juga telah mengklarifikasi perusakan masjid di Lumajang dan peng-aniayaan tokoh agama di Lamongan. "Tidak benar itu."
Bagi pengamat intelijen Wawan Purwanto, tindakan Polri melakukan antisipasi itu sudah benar untuk meredakan tensi politik yang memanas. "Hanya, intelijen Polri perlu melakukan pengamanan tertutup agar semuanya terukur. Intelijen Polri perlu bekerja sama dengan intelijen TNI."
Sementara itu, Uskup Agung Semarang Robertus Rubiyatmoko seusai mengunjungi kediaman Buya Syafii Maarif di Sleman, DI Yogyakarta, kemarin, menyampaikan terima kasih karena Buya telah memberikan respons cepat sehingga menenangkan umat.
"Masyarakat tidak emosional, tidak terpancing, dan tidak terprovokasi. Bahkan persaudaraan dan solidaritas kita semakin kuat. Kami ingin peristiwa ini jangan sampai membuat kita lunglai," ungkap Rubiyatmoko.
Buya Syafii Maarif bersyukur disambangi Uskup Rubiyatmoko. "Saya hanya sekrup kecil dari Republik ini untuk menegakkan nalar dan akal sehat."
Pada Minggu (11/2) pukul 08.00 WIB seorang pemuda bernama Suliyono mengamuk dengan menggunakan senjata tajam di Gereja Santa Lidwina Bedok, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, sehingga melukai empat orang termasuk seorang pastor.(Nov/YK/AT/FU/Ant/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved