Calon Wapres Penentu Kemenangan

Putri Anisa Yuliani
19/2/2018 07:13
Calon Wapres Penentu Kemenangan
(MI/M IRFAN)

PERTARUNGAN sengit antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto sangat mungkin terjadi kembali dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pemenang akan ditentukan dari pihak yang mampu memilih wakil yang dapat mengimbangi serta memberikan tambahan suara.

Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha, dalam hasil survei Poltracking Indonesia, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, kemarin. Survei dilaksanakan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018 terhadap 1.200 responden. "Persaingan keduanya sudah ketat. Jadi faktor utamanya akan ada di wakil," ujar Hanta.

Dalam survei itu, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengemuka sebagai calon wakil presiden dengan suara tertinggi, yakni 12,4%, disusul Anies Baswedan 12,1%, Gatot Nurmantyo 12,4%, Ridwan Kamil 10,4%, dan Muhaimin Iskandar 7%.

Jokowi masih calon presiden terpopuler dan paling disukai. Pada pertanyaan terbuka jika pemilu dilakukan pada periode waktu survei responden, Jokowi mendapatkan suara tertinggi, yakni 45,4%, disusul Prabowo 19,8%.

Elektabilitas Jokowi naik sebesar 4,4% jika dibandingkan dengan pada survei yang dilakukan di periode November 2017. Ketika itu Jokowi mendapatkan suara 41,5% dalam pertanyaan terbuka yang sama.

Begitu pula dengan elektabilitas Prabowo yang naik sebanyak 1,7% karena pada survei di periode November 2017 Prabowo mendapatkan suara sebanyak 18,2%.

Suara Jokowi melonjak lebih tinggi lagi ketika disodorkan hanya 5 calon nama capres. Jokowi mendapatkan suara 55,9%, disusul Prabowo sebanyak 29,9%, Anies Rasyid Baswedan 2,8%, Gatot Nurmantyo 2,3 %, dan AHY 2,1%. Sisanya 7% responden tidak menjawab.

Meski begitu, Hanta mengingatkan pihak Jokowi tidak jemawa sebab survei juga menunjukkan ada faktor yang membuat publik masih tidak puas terhadap kinerja, terutama pada bidang ekonomi.

Hanta juga menyebut skenario poros capres-cawapres hanya akan terjadi paling banyak tiga poros. "Sulit untuk mendapat lebih dari tiga. Kemungkinan adalah poros Jokowi, poros Prabowo, dan poros Demokrat."

Namun, jika tercipta poros Jokowi-Prabowo sebagai capres-cawapres, keduanya bisa tidak terkejar oleh pasangan lain dengan kemungkinan suara di atas 50%.

Belum menentukan

Politikus Partai Demokrat Roy Suryo menegaskan Demokrat sampai saat ini tidak pernah menyebut AHY sebagai baik capres maupun cawapres. Putra Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono itu fokus pada tugasnya di Partai Demokrat.

"Saat ini AHY masih fokus menjadi Kogasma (Komandan Satgas Bersama) Partai Demokrat. Saya percaya masa depan cerah AHY masih panjang dan jauh ke depan. Masa keemasan AHY bukan hari ini saja," tutur Roy.

Politikus PDIP Maruarar Sirait juga menyatakan PDIP belum mendiskusikan pencalonan kembali Jokowi menjadi capres, apalagi menyimulasikan cawapres pendamping Jokowi.

"Apakah (sosok cawapres) akan disiapkan untuk sampai 2024 saja atau akan terus ikut kontestasi hingga 2029. Itu yang harus dipikirkan."(Put/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya