Partai Baru Dinilai Sulit Tembus Parlemen

Putri Anisa Yuliani
18/2/2018 21:15
Partai Baru Dinilai Sulit Tembus Parlemen
(Dok MTVN)

DIREKTUR Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha menilai sulit bagi partai politik baru untuk menembus ambang batas parlemen atau parlementary threshold sebesar 4%.

Hanta menilai masyarakat masih belum memiliki gambaran utuh mengenai visi dan misi partai politik (parpol) baru, di tengah konsistensi dukungan terhadap parpol lama.

"Agak sulit bagi parpol baru untuk menembus parlemen, tapi bukan tidak mungkin," kata Hanta dalam rilis terbaru survei Poltracking Indonesia di Jakarta, Minggu, (18/2).

Dalam survei yang digelar pada 27 Januari-3 Februari itu, Poltracking mendapatkan bahwa PDIP masih kuat berada di puncak parpol. PDIP akan meraih suara terbanyak jika pemilu digelar pada periode tersebut, dengan raihan 26,5% suara, disusul Gerindra dengan 13,4% dan berturut-turut Golkar 11,3%, Demokrat 6,6%, PKB 6%, PKS 4,6%, PAN 3,6%, NasDem 3,3%, PPP 2,7%, dan Hanura 2,3%.

Sementara itu, untuk parpol baru hanya Perindo dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mampu mendapatkan suara lebih dari 1%. Perindo mendapat 2,1% dan PSI mendapat 1,1%. Sebanyak 15,1% responden masih belum menentukan pilihannya.

Kemungkinan terbesar untuk parpol yang mampu menembus parlemen ada pada Perindo. Menurut Hanta, sosialisasi masif yang ditunjukkan melalui media yang dimiliki Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo menjadi modal kuat.

"Saya pikir kalaupun ada yang bisa menembus kemungkinan Perindo dan PSI," ungkapnya.

Namun demikian, Hanta menyebut hal itu bisa berubah dalam waktu 14 bulan ke depan. Terlebih lagi calon presiden yang akan diusung serta peta koalisi yang akan terbentuk pada Agustus mendatang, akan sangat menentukan.

"Banyak yang masih bisa terjadi dalam 14 bulan ke depan. Partai lama pun belum tentu bisa lolos. Ingat, masih ada 15% yang belum menentukan jawaban," tutur Hanta.

Dalam kesempatan yang sama, politisi PDIP Maruara Sirait mengatakan momentum Pemilu 2019 bisa menjadi tonggak sejarah bagi PDIP, karena kemungkinan kembali memenangkan pemilu terbuka lebar.

Sebab, sejak pemilu pascareformasi, belum ada satupun parpol yang bisa dua kali memenangkan pemilu. PDIP dinilainya bisa menjadi pemenang pemilu kembali jika bisa memenangkan hati rakyat.

"PDIP bisa mencetak sejarah menjadi pemenang pemilu dua periode berturut-turut, asal kerja sesuai dengan kemauan rakyat, dan mendengar apa yang dimaui rakyat. Karena tidak selalu apa yang diinginkan elite politik adalah yang diinginkan rakyat," tukasnya.

Di sisi lain, politisi Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan partai penguasa yakni PDIP dengan Joko Widodo sebagai presiden tidak boleh bersantai-santai. Sebab, Gerindra siap menyalip. Terlebih dari hasil survei, Fadli melihat Gerindra makin meningkat dari segi elektabilitas.

"Ada banyak ketidakpuasan dari program kerja Jokowi jadi harus hati-hati. Kami pun sampai saat ini meski Pak Prabowo belum menyatakan akan maju capres. Tapi jika ada kesempatan dan panggilan dari masyarakat beliau mau maju dan kami pun sangat mendorong dan mendukung," ungkapnya.

Politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo menilai, partainya masih bisa berbicara di kancah nasional. Ia pun menargetkan Partai Golkar bisa finis sebagai penghuni dua besar partai pemenang Pemilu. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya