Kemiskinan Munculkan Radikalisme

Deo/P-1
07/2/2018 09:40
Kemiskinan Munculkan Radikalisme
(Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) Yudi Latif -- MI/PANCA SYURKANI)

RADIKALISME muncul terutama karena kemiskinan. Namun, bukan hanya miskin secara material, radikalisme lahir di kelompok-kelompok masyarakat yang miskin wawasan kemanusiaan, miskin pemahaman keagamaan, dan miskin pengalaman bergaul lintas kultural.

Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif lebih khusus menyoroti pergaulan. Masyarakat Indonesia saat ini justru lebih mundur ketimbang pada masa para pendahulu mereka.

"Ketika 1928 (Sumpah Pemuda), orang-orang dari berbagai pelosok melintasi batas-batas wilayah, melepas baju identitas, dan sama-sama mengusung keindonesiaan. Tapi sekarang, yang terjadi ialah orang masuk ke bungker identitas yang memandang orang yang berbeda itu secara picik," Yudi menjelaskan dalam sebuah diskusi di Hotel Acacia, Jakarta, kemarin.

Yudi mengatakan radikalisme juga merupakan ekses dari distorsi dalam demokrasi. Ketika hendak mencapai keputusan politik, musyawarah untuk mufakat kerap dilupakan dan pemungutan suara diambil sebagai jalan pragmatis mencari solusi.

"Maka muncul kelompok partai yang suaranya tidak pernah didengar dan mengembangkan mentalitas di luar pagar. Nah, dia akan berteriak kencang dan antidemokrasi karena di dalam demokrasi tidak ada tempat. Makanya pendiri bangsa inginnya demokrasi musyawarah. Meskipun suara partainya kecil, kalau idenya bagus, harus kita terima," tutur Yudi.

Namun, Yudi tidak menafikan pentingnya menciptakan keadilan sosial bagi seluruh bangsa sebagaimana bunyi sila kelima Pancasila. Harus diakui, kesenjangan yang terlalu lebar tidak memberikan lingkungan yang kondusif untuk mengapresiasi kemajemukan.

Pada kesempatan yang sama, cendekiawan muslim Azyumardi Azra meminta generasi muda Islam bersikap kritis dalam menghadapi gagasan-gagasan radikal yang berkembang, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasalnya banyak propaganda kelompok-kelompok radikal yang tidak bersumber dari fakta sejarah.

"Misalnya propaganda membangun daulah islamiyah. Sampai sekarang itu tidak ada daulah islamiyah yang berhasil. Apalagi khilafah. Tidak ada model suksesnya yang bisa dijadikan contoh. Karena itu, generasi now harus kritis. Jangan cepat tergoda dengan retorika-retorika yang menyesatkan," Azyumardi menegaskan.(Deo/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya