Emil dan Deddy Bersaing Ketat

Putri Anisa Yuliani
06/2/2018 07:39
Emil dan Deddy Bersaing Ketat
(MI/Susanto)

SURVEI opini publik Cyrus Network pada kurun 16-22 Januari 2018 menunjukkan dua pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2 DM) bersaing ketat.

Elektabilitas pasangan Rindu merupakan yang tertinggi yakni 45,9%, disusul pasangan 2DM dengan raihan 40,9%. Sementara itu, elektabilitas Sudrajat-Ahmad Syaikhu dan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan terbilang kecil, hanya 5% dan 2,5%.

"Awalnya perbedaan antara kandidat Rindu dan 2 DM ini cukup jauh. Namun, dari hari ke hari semakin dekat," kata Managing Director Cyrus Network, Eko Dafid Afianto, dalam paparannya di Jakarta, kemarin.

Menurut Eko, raihan suara Rindu dan 2 DM mulai saling mengejar setelah pengumuman sebagai pasangan bakal calon kepala daerah. Namun, elektabilitas Kang Emil cenderung stagnan karena Uu tidak memberi kontribusi buat mendongkrak elektabilitas Rindu.

Eko menilai hal itu berbeda dengan kompetitor terdekat Rindu, 2 DM, yang memberikan efek kejut. Hal itu terjadi setelah Deddy Mizwar resmi diduetkan dengan Dedi Mulyadi oleh Partai Demokrat dan Partai Golkar sebagai pasangan calon kepala daerah.

"Dedi Mulyadi sudah menyiratkan ingin menjadi calon gubernur, tapi Partai Golkar awalnya pasif. Tiba-tiba mereka (Dedi Mul-yadi-Deddy Mizwar) dipasangkan. Akhirnya ada efek kejut yang membuat elektabilitas keduanya meningkat," kata Eko.

Hasil survei prapilkada itu juga menunjukkan Rindu dan 2 DM imbang dari sisi basis pendukung. Rindu kuat di wilayah pembangunan 1 (Bogor Raya, Sukabumi, Cianjur, dan Depok) serta wilayah pembangunan 4 (Bandung Raya, Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Pangandaran).

Sementara itu, 2 DM unggul di wilayah pembangunan 2 (Bekasi Raya, Purwakarta, Karawang, dan Subang) serta di wilayah pembangunan 3 (Cirebon Raya, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan).

"Keduanya berbagi basis dukungan. Siapa yang dapat mengelola dukungan dengan baik dan mampu memobilisasi pendukung untuk menggunakan hak pilih, mereka akan bisa kemungkinan besar untuk menang," kata Eko.

Pantang diremehkan

Di lain pihak, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan tetap harus diwaspadai.

"Memang masih rendah. Tapi kita masih belum tahu karena mereka muncul dari dua partai terbesar di Jawa Barat. Pengelolaan mesin partailah yang nanti berbicara," ungkap Eko.

Pengamat politik Philips J Vermonte mengatakan peta dukungan pada pilkada Jawa Barat selalu berubah dari periode ke periode. Menurut dia, pihak yang melakukan kampanye efisien dan efektiflah yang akan menang. Adapun batas pengeluaran dana kampanye bagi pasangan calon mencapai Rp473 miliar.

"Hasil pilkada Jawa Barat cenderung berubah-ubah. Pemilih Jawa Barat tidak melihat partai, tetapi tokoh. Elektabilitas tinggi tidak menjadi jaminan. Contoh pilkada sebelumnya, Dede Yusuf unggul dalam berbagai survei, tetapi akhirnya kalah," ungkapnya.

Survei kali ini melibatkan 1.000 responden, dengan teknik multistage random sampling. Tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 3,1%.(EM/P-4)

#PILKADA



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya