Data Produksi Beras Asal-asalan

Fetry Wuryasti
05/2/2018 07:32
Data Produksi Beras Asal-asalan
(Menteri Pertanian Amran Sulaiman -- ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

DI Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, pasokan beras defisit dalam satu bulan terakhir, dari seharusnya rata-rata 3.000 ton per hari menjadi tinggal hanya 1.500 ton.

Stok yang dimiliki pedagang beras di PIBC pun tinggal sekitar 23 ribu ton. Padahal, cadangan beras yang aman itu minimal 25 ribu ton. Hal itu membuat harga beras medium di pasaran naik menjadi Rp10.500 per kilogram dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp9.450.

Akan tetapi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman tetap mengklaim stok beras lebih dari cukup. Dia berkeyakinan seluruh lahan persawahan yang panen selama Januari-Maret akan menghasilkan gabah sebanyak 750 ribu ton dan masih tersedia 610 ribu ton setelah dikurangi untuk konsumsi masyarakat sekitar 140 ribu ton (Media Indonesia, 4/2).

Dalam menanggapi hal itu, Guru Besar IPB Muhammad Firdaus mengatakan data produksi beras yang disampaikan Mentan tersebut salah.

“Sejak dulu data pemerintah soal pangan tidak bisa dipercaya siapa pun. Asal memang. Ke depan harus dikoreksi. Kalau dia yakin sekarang stok itu ada, suruh keluarkan. Begitu!” kata Firdaus, kemarin.

Menurut Firdaus, untuk menghindari naiknya harga beras yang memicu inflasi, pemerintah mau tidak mau harus mengimpor beras. Undang-Undang Pangan pun mengamanahkan impor apabila produksi beras kurang.

“Buka-tutup keran impor beras itu lazim di semua negara. Kenapa kita ngotot harus berbeda sendiri. Kenyataannya tidak ada produksi dan di pasar juga tidak ada beras,” ujar Firdaus.

Hal senada juga dikemukakan pengamat pertanian dari UGM, Jangkung Handoyo Mulyo. “Data yang disajikan beragam. Bagi pihak yang dituntut memenuhi target produksi beras pasti surplus. Ke depan perlu data tunggal. Data harga lebih valid ketimbang produksi ataupun konsumsi. Harga beras melambung tinggi, pasti
karena stok tidak ada.”

Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian mencatat selama 2012-2016 Indonesia mengimpor beras rata-rata 665.626 ton per tahun dan kemudian menjadi 127 ribu ton hingga kuartal III 2017. Pada awal 2018, pemerintah kembali mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton.

Lahan pertanian di sejumlah daerah di Priangan Timur pun belum melakukan panen di awal Februari ini.
Dampaknya harga beras mengalami kenaikan. Di sisi lain, beberapa penggilingan gabah sudah menghentikan kegiatan sejak dua minggu lalu karena harga gabah kering giling terus merangkak naik hingga mencapai Rp6.700 per kilogram.

Kepala Dinas Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ahmad Damiri, mengakui daerahnya tidak pernah mencapai target produksi padi sebesar 132.069 ton. “Dalam setahun produksi padi hanya 22.202 ton. Kendalanya irigasi yang buruk dan tidak ada embung. Kami harus mencetak 22 ribu hektare sawah baru untuk mencapai target.” (AT/LD/BB/TS/AD/RF/JS/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya