Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Pemilu 2019, diperkirakan hanya ada tiga partai yang mendapatkan elektabilitas di atas 10%. PDI Perjuangan (PDIP) masih menduduki peringkat pertama dengan 22,2%.
Partai Golkar naik ke peringkat dua dengan 15,5% setelah sebelumnya di peringkat tiga dan posisi ke tiga ialah Partai Gerindra dengan perolehan 11,4%.
Hal itu terlihat dalam temuan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dipaparkan di Jakarta, kemarin. Dua partai lainnya yang masuk lima besar meliputi Demokrat 6,2%, dan PKB 6%.
Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, prediksi tiga partai papan atas sejalan dengan hasil lima survei terakhir yang dilakukan LSI Denny JA. PDIP, Golkar, dan Gerindra konsisten meraih elektabilitas di atas 10%.
Survei LSI Denny JA memperlihatkan bahwa penunjukan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar yang baru menempatkan Golkar dalam jalur pemulihan elektabilitas setelah terpuruk diterpa kasus dugaan korupsi KTP-E yang mengarah kepada Setya Novanto, ketua umum sebelumnya.
"Pascapergantian kepemimpinan elektabilitas Partai Golkar mulai membaik dan menunjukkan tren kenaikan. Pada survei Agustus 2017, elektabilitas Golkar sebesar 11,6% di peringkat ketiga di bawah Gerinda. Pada Desember elektabilitas Golkar mulai naik ke 13,8% dan Januari menjadi 15,5%," ungkap Rully.
Di sisi lain, elektabilitas PDIP justru menurun dari Agustus 2017 yang sebesar 28,3% menjadi 22,7% pada Desember. Kemudian, di Januari kembali turun hingga ke 22,2%.
Rully melihat terdapat pergeseran pemilih dari Golkar ke PDIP karena kasus KTP-E pada 2017 lalu. Migrasi itu terjadi karena PDIP dan Golkar memiliki platform partai yang sama, yakni nasionalis serta memiliki basis dukungan tradisional yang berasal dari kelas yang sama, yakni kelas menengah bawah.
Namun, ketika Golkar melakukan pembenahan partainya dengan mengganti ketua umum, elektabilitas partai belambang beringin itu terdongkrak pada Januari ini. Slogan 'Golkar bersih' dan sejumlah program prorakyat mampu mendorong elektabilitas Golkar. "Jadi, pemilih Golkar yang sempat lari ke PDIP mulai kembali lagi ke Golkar dengan Ketua Umum Golkar yang baru dianggap sebagai pembaru Golkar," terang Rully.
Selain itu, Golkar terlihat mulai dapat mengimbangi asosiasi Presiden Joko Widodo dengan PDIP. Semula PDIP yang paling terasosiasikan dengan kinerja Jokowi, sekarang Golkar mulai bisa mengasosiasikan kinerja positif Jokowi dengan mereka.(Dro/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved