Gus Mus Didapuk Sebagai Ulama Pejuang HAM

Richaldo Y Hariandja
24/1/2018 22:43
Gus Mus Didapuk Sebagai Ulama Pejuang HAM
(MI/Usman Iskandar)

AHMAD Mustofa Bisri atau yang biasa dikenal Gus Mus didapuk sebagai tokoh pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) 2017 oleh Yayasan Yap Thiam Hien.

Alasannya, Gus Mus dipandang sebagai tokoh Islam atau ulama yang bisa memberikan ketenangan di tengah panasnya politik dalam rangka Pilkada 2017.

"Kita melihat kondisi saat ini ketika situasi sosial politiknya dimanfaatkan banyak pihak yang ingin menangkan diri kelompok dan partainya. Itu bisa kita lihat di Pilkada 2017," ucap Ketua Dewan Juri Yap Thiam Hien 2017 Zumrotin K Susilo dalam malam penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2017 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (24/1).

Gus Mus, lanjut dia, memiliki basis massa yang besar dan posisi strategis, hanya saja itu tidak dimanfaatkan Gus Mus. Ia memilih untuk memperjuangkan HAM dan keadilan dengan cara yang teduh.

"Dengan cara dia, tulisan dan puisi yang disusun, setiap ada tulisan dan puisi itu viralnya luar biasa. Ini menunjukan tulisan beliau dirindukan dan memberikan kedamaian masyarakat. Ini cara terbaik, cara yang sangat efektif dalam mempengaruhi masyarakat," ucap Zumrotin saat membeberkan pertimbangan dewan juri saat memilih Gus Mus.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis menyatakan ketika Pilkada DKI tahun lalu, Gus Mus adalah sosok yang berani bersuara menolak politisasi agama.

Ia menolak masuknya agama ke panggung politik dan menjadikan sebagai alat kampanye dalam mendiskreditkan pihak lainnya.

"Saya setuju dengan sikap Gus Mus, karena masuknya agama dalam politik kampanye adalah langkah mundur," terang Todung.

Presiden, lanjut Todung, mengatakan jika keberagaman Indonesia termasuk dari sisi kepercayaan yang dianut harus dipertahankan sebagai kekayaan bangsa.

"Indonesia yang mayoritas muslim dan bisa berdemokrasi adalah contoh yang bisa mengawinkan demokrasi universal dengan Islam terbuka yang toleran," imbuh dia.

Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menyatakan, penganugerahan yang diberikan merupakan pilihan tepat secara subjek dan waktu. Gus Mus merupakan pengejawantahan dari sosok yang memiliki kedalaman Iman sangat baik.

"Saya seorang Kristiani diajarkan kalau ditampar pipi kanan kasih pipi kiri, belum pernah saya lakukan. Tapi Pak Kyai ini dihujat tahun lalu sangat kasar dalam standar ketimuran kita, beliau terima dengan tangan terbuka," puji Yasona.

Dirinya dalam kesempatan tersebut menyatakan jika menjaga dan menghormati HAM juga merupakan tanggung jawab dari semua pihak. Untuk itu, ia meminta peran aktif dari semua lapisan masyarakat.

Sementara itu, Gus Mus dalam kata sambutannya menyatakan pemberian penghargaan tersebut adalah sesuatu yang disebutnya 'lebay'. Menurutnya, apa yang dilakukannya adalah menjaga Indonesia yang dianggapnya sebagai Rumah.

"Guru-guru saya di pesantren yang mengajarkan kalau Indonesia itu rumahmu, makanya yang saya lakukan adalah saya jaga rumah saya," papar Gus Mus.

Menurut dia, para pejuang di partai politik yang bertarung di 2018 dan 2019 harus tetap mengedapankan kepentingan dari Indonesia. "Karena yang kalian perjuangkan adalah Indonesia, kerja untuk Indonesia," tukasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya