REKRUTMEN yang dilakukan Islamic State (IS) di Indonesia sangat sistematis.
Kelompok radikal yang berbasis di Suriah tersebut tidak hanya merekrut orang dewasa untuk bergabung, tapi juga wanita dan anak-anak.
Polri juga mengendus ada seorang WNI yang mendanai operasi perekrutan anggota IS tersebut.
Peringatan terhadap seriusnya ancaman IS di Indonesia terebut dikemukakan oleh mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai kepada Media Indonesia, kemarin.
Menurut Ansyaad, umumnya mereka yang diajak bergabung dengan IS ialah yang sudah dicuci otaknya.
"Mereka itu berangkat ke Suriah dan bergabung dengan IS karena mau jihad. IS juga rekrut anak-anak dan wanita karena mereka menganggapnya efektif jadi pejuang dan pengawasannya (imigrasi) dinilai longgar " jelasnya.
Mengenai pernyataan Wakapolri Komjen Badrodin Haiti yang menyebut ada seorang WNI yang mendanai perekrutan anggota IS, Ansyaad tidak menampik kemungkinan tersebut.
Menurut dia, biasanya kegiatan terorisme bisa didanai dari kegiatan kriminal seperti perampokan toko emas atau nasabah bank.
Pada dasarnya pendanaan itu tidaklah sulit karena akibat dicuci otaknya, korban rela mengeluarkan uang berapa pun untuk jihad.
"IS sudah punya segalanya, uang, kekuatan militer, sumber daya alam, rakyat, undang-undang. Sebenarnya IS adalah negara minus pengakuan internasional," pungkas Ansyaad.
Pihak kepolisian, kemarin, mengatakan sudah bisa mendeteksi modus rekrutmen WNI yang bergabung dengan IS.
"Rekrutmennya yang jelas sampai saat ini belum ada yang terbuka. Tetapi yang sudah bisa kita deteksi ada beberapa yang dibiayai oleh satu orang," kata Badrodin di Mabes Polri, kemarin.
Kapolri mengungkapkan beberapa dari mereka yang diduga bergabung dengan IS berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat.
Bahkan mereka terduga masih ada hubungan keluarga dengan pelaku terorisme di Indonesia.
16 WNI masih raib Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengonfirmasi bahwa 16 WNI yang ditangkap otoritas Turki belum lama ini bukanlah bagian rombongan agen perjalanan yang diduga menghilang di negara tersebut.
Namun, mereka jelas hendak menyeberang ke Suriah.
"Confirm yang ditahan tersebut bukan WNI yang ikut rombongan tur," ungkapnya, di Istana Negara, Jakarta, kemarin.
Kejelasan itu didapat setelah dilakukan koordinasi dan komunikasi intensif antara Kemenlu dan pemerintah Turki.
Diketahui pula, 16 warga yang ada dalam penanganan pemerintah Turki itu terdiri atas 1 pria dewasa, 4 perempuan dewasa, serta 11 anak laki-laki dan perempuan.
"Dari pembicaraan, pendalaman yang kita lakukan, diperoleh informasi mereka memang merencanakan untuk menyeberang ke Suriah," imbuhnya.
Soal 16 WNI yang memisahkan diri dari rombongan agen perjalanan PT Smilling Tour, Retno menyebut pihaknya terus mencari data bersama pemerintah Turki.
"Kemarin kita bicarakan. Dari otoritas Turki, mereka belum dapat mengonfirmasi apakah 16 (WNI) itu masih berada di Turki atau sudah menyeberang ke Suriah," jelasnya.
Untuk mencari solusi masalah itu, lanjutnya, Kemenlu segera mengirim tim kecil ke Turki, paling lambat Sabtu (hari ini).
Tim juga dibebani tugas mempererat kerja sama kedua negara. (Kim/DG/P-2)