Reza Biasa Tangani Ekspor-Impor Teroris

Akmal Fauzi
07/1/2018 06:39
Reza Biasa Tangani Ekspor-Impor Teroris
(Ilustrasi--thinsktock)

REZA Nurjamil, terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror, hingga kemarin masih menjalani pemeriksaan intensif atas perannya sebagai agen penyalur teroris ke luar negeri, khususnya Filipina.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Muhammad Iqbal menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, didapati peran Reza tidak hanya 'mengekspor' teroris ke luar negeri, tapi juga 'mengimpor' teroris untuk beraksi di Indonesia.

Didapati juga info, sebelum warga negara Indonesia (WNI) dikirim ke luar negeri, mereka terlebih dahulu mengikuti pendidikan dan doktrinisasi.

"Ya, tentu dididik, akan didoktrinasi oleh kelompok ini," ucap Iqbal, kemarin.

Namun, Iqbal belum mau menjelaskan bagaimana pola rekrutmen dan doktrinisasi yang dilakukan kelompok Reza, termasuk jumlah orang yang sudah disalurkannya ke luar negeri ataupun dimasukkan ke dalam negeri.

"Belum bisa kami ungkap dulu.Kami masih dalam proses penyelidikan. Kami harus hati-hati menyelidikinya," ujarnya.

Reza ditangkap Tim Densus 88 Antiteror di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu, 31 Desember 2017 lalu. Ia diduga masuk ke jaringan penyalur WNI ke luar negeri untuk menjadi teroris asing atau foreign terrorist fighter (FTF).

Reza diketahui merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Tasikmalaya, Jawa Barat. Perannya di kelompok itu ialah sebagai panitia hijrah Filipina dengan wilayah tugas Pos 2 Nunukan.

Densus 88 memiliki waktu 7x24 jam sejak penangkapan untuk menetapkan Reza sebagai tersangka. Densus harus mendapati alat bukti keterlibatannya dalam jaringan terorisme. Selain memeriksa Reza, Densus 88 Antiteror pun terus mengembangkan kasus itu untuk melacak adanya keterlibatan pihak lain.

Jaringan berstruktur

Pengamat terorisme, Al Chaidar, mengatakan pola pengiriman anggota teroris ke luar negeri seperti yang dilakukan Reza merupakan pola lama, khususnya di wilayah Nunukan. "Memang daerah seperti Nunukan dan Sebatik merupakan daerah strategis untuk membawa teroris dari Indonesia ke Tawau, ke Mindanao. Memang itu sudah jalur lama," kata Chaidar saat dihubungi, kemarin.

Jaringan teroris itu mendoktrin para calon teroris baru dengan cara yang sangat persuasif. Bahkan jaringan itu secara terbuka mengajak para calon teroris itu untuk bertatap muka guna meyakinkan mereka sebelum diberangkatkan ke luar negeri.

"Mereka menghadirkan sesi tanya jawab. Mereka juga diskusi ayat-ayat dan hadis logika. Itu mereka bahas melalui tatap muka. Berbeda kalau lewat media sosial, itu teroris lone wolf namanya, bukan yang berstruktur. Kalau dilatih di luar, itu yang berstruktur," terang Chaidar.

Ia mengaku belum memiliki catatan bagaimana sepak terjang Reza Nurjamil selama ini. Namun, ia menegaskan Reza bisa dipastikan merupakan sosok penting dalam jaringan teroris yang biasa mengirim WNI ke luar negeri.

"Dia itu tokoh utama, tokoh penting. Menurut beberapa catatan, WNI yang sudah dibawa itu sebanyak 12 orang ke Mindanao untuk bergabung kelompok teroris," ujarnya. (J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya