Keberagaman Perkukuh Tahun Politik

Indriyani Astuti
26/12/2017 07:54
Keberagaman Perkukuh Tahun Politik
(ANTARA/Sigid Kurniawan)

DALAM kondisi apa pun, keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia seyogianya menjadi modal untuk bersatu, termasuk memasuki tahun politik 2018 dan 2019. Sementara itu, peringatan Natal dapat menjadi momentum mendorong perbedaan menjadi kekuatan bangsa.

Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan perbedaan keyakinan dan saling menghormati atas perbedaan yang ada merupakan kekuatan bangsa untuk maju.

Indonesia, kata dia, ialah rumah bagi semua warga sehingga apa pun latar belakang budaya, agama, dan etnis harusnya menjadi alat pemersatu dan menjadi kekuatan.

"Sejak Indonesia merdeka 72 tahun lalu kita sudah sepakat hidup dalam perbedaan dalam keragaman, kuncinya saling menghargai, saling menghormati," katanya di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Dalam menghadapi momentum Natal, Tahun Baru, dan pilkada serentak 2018, ia mengajak semua rakyat untuk bersatu menempatkan kepentingan bangsa menjadi nomor satu.

Dalam kesempatan itu, Zulkifli mengucapkan selamat merayakan Hari Natal pada umat Nasrani di Tanah Air. "Selamat Hari Natal untuk saudara-saudaraku yang merayakan," katanya.

Hal yang sama disampaikan Presiden Joko Widodo. 'Untuk umat kristiani di seluruh Indonesia, saya mengucapkan selamat merayakan Natal. Keragaman umat beragama di Indonesia adalah rahmat bagi kita semua -Jkw', cicit Presiden di akun Twitter resminya @jokowi, kemarin.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden selalu berpesan kepada masyarakat untuk menghindari konflik horizontal, seperti antarsuku atau antaragama. Menurut dia, keberagaman suku, agama, dan bahasa justru harus jadi kekuatan NKRI.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan Natal menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama.

Menurutnya, Natal bisa menjadi momentum untuk kembali ke esensi ajaran agama yang memanusiakan sesama. "Mari kita saling menghargai dan menghormati antarsesama saudara sebangsa. Baik terhadap yang merayakan maupun yang tidak," ujarnya.

Tahun politik

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak meyakini keberagaman bangsa Indonesia tidak akan goyah memasuki tahun politik, Pilkada 2018 dan Pemilihan Presiden 2019. "DNA masyarakat Indonesia itu sangat toleran dan paham dengan fakta keberagaman yang sebagai bangsa," kata Dahnil, tadi malam.

Dia menyebutkan keberagaman Indonesia selama ini menjadi kekuatan kita sebagai bangsa dan negara, merujuk pada sejarah Indonesia. "Sumpah Pemuda 1928 adalah pijakan dasar kesadaran kolektif keberagaman tersebut," cetusnya.

Dahnil tidak memungkiri ada destruksi politik yang sering kali merusak keberagaman tersebut, baik oleh mereka yang mengaku kelompok paling agamais maupun mereka yang mengaku kelompok paling toleran. "Sejatinya, agama bisa menjadi rambu dan etika politik."

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo mengharapkan perayaan Natal 2017 mendorong umat kristiani untuk belajar mengembangkan kemampuan menerima perbedaan dan mensyukurinya sebagai kekayaan hidup bersama.

Ignatius mengakui kondisi masyarakat saat ini banyak yang cemas akibat persatuan bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini terancam perpecahan. "Hal ini terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa, seperti persaingan politik yang tidak sehat dan golongan yang menghalalkan segala cara, layaknya menempuh jalan yang berbeda dengan Pancasila. Hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi sulit terwujud," ujarnya di Gereja Katedral, Jakarta, kemarin.(TB/Ant/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya