Kematian Bahrun Naim Kabar Bohong

Sri Utami
13/12/2017 09:52
Kematian Bahrun Naim Kabar Bohong
(MI/Susanto)

KAPOLRI Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan informasi petinggi Islamic State (IS) Bahrun Naim tewas hanya kabar bohong. Hal itu didasarkan pada ketiadaan informasi dari Interpol dan negara-negara sekitar Suriah yang memastikan kematian Bahrun.

"Info tewasnya Bahrun Naim itu hanya sebatas (kabar) media sosial," kata Jenderal Tito di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Menurut Kapolri, Polri melalui Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) telah menghubungi Interpol dan petinggi beberapa negara yang memiliki akses dengan Suriah. Hasilnya, mereka belum bisa mengetahui kepastian kabar tersebut.

Kabar kematian Bahrun beredar luas di masyarakat sejak Kamis (30/11) melalui aplikasi pesan Whatsapp. Bahrun Naim disebut-sebut sebagai dalang aksi teror bom Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016.

Bahrun yang kerap disebut sebagai pimpinan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu merupakan perekrut sejumlah teroris dari Indonesia. Ia kerap mengajarkan cara membuat bom melalui grup-grup Telegram internal teroris.

Lebih lanjut, Tito Karnavian menegaskan tidak ada ancaman terorisme menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. "Tidak ada info ancaman," ujarnya.

Kendati demikian, jajarannya tetap mengantisipasi keberadaan teroris dengan mengedepankan upaya pencegahan. "Kami lakukan preventive strike," tutur Kapolri.

Upaya tersebut tampak dalam aktivitas Polri. Tim Densus 88 telah menangkap 19 orang terduga teroris di Jawa Timur, Pekanbaru, dan Sumatra Selatan dalam rentang waktu 9-11 Desember.

Awalnya, Densus 88 menangkap tiga orang terduga teroris di Jawa Timur, Sabtu (9/12). Ketiganya merupakan jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (IS) serta kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Identitas ketiga terduga teroris itu ialah Paripung Dhani Pasandi alias Ipung, Muhammad Muhidin Gani alias Abu Faros alias Deni, dan Kiki Rizky Abdul Kadir alias Kiki alias Abu Ukasah.

"(Ipung) merencanakan pengeboman kantor polisi di Surabaya pada 2014, Muhidin dan Kiki termasuk kelompok jaringan Abu Jandal," katanya.

Sementara itu, sebanyak 12 orang terduga teroris di Sumatra Selatan ditangkap pada Minggu (10/12) dan Senin (11/12). Selanjutnya, pada Senin (11/12), empat terduga teroris ditangkap di tiga wilayah berbeda di Pekanbaru. Keempatnya ialah Aj dan DG ditangkap di Kabupaten Kampar, RR ditangkap di Pekanbaru, dan DR ditangkap di Bengkalis.

Terduga teroris Aj diduga anggota kelompok teroris yang menyerang Polres Dharmasraya, Sumatra Barat, beberapa waktu lalu.

Dibawa ke Jakarta

Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan bahwa belasan orang terduga teroris itu akan segera diterbangkan ke Makobrimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, untuk diperiksa lebih lanjut secara intensif.

"Nanti dibawa ke Mako Brimob semua untuk diperiksa," kata Setyo.

Setyo juga mengatakan KR, 45, dan JS, 15, yang ditangkap Densus 88 di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, terkait kasus ujaran kebencian, diduga terlibat dalam jaringan terorisme. Keduanya ditangkap pada Sabtu (9/12) sekitar pukul 20.30 WIB.

"Kalau Densus sudah menangkap, berarti ada indikasi terorisme. Nanti kita tunggu hasil penyelidikannya," ujar Setyo. (Ant/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya