Cegah Perkembangan Radikalisme

Nur Aivanni Fatimah
05/12/2017 09:28
Cegah Perkembangan Radikalisme
(MI/Rommy Pujianto)

DIREKTUR Wahid Fondation, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman atau yang kadib disapa Yenny Wahid, menyampaikan data suram hasil penelitian pihaknya di acara Simposium Nasional Peran Ibu untuk Perdamaian, terkait dengan radikalisme dan intoleransi di Indonesia.

Menurut Yenny, hasil survei antara Wahid Foundation dan Lingkar Survei Indonesia (LSI) menunjukkan sebanyak 0,4% muslim Indonesia pernah terlibat dalam radikalisme. Survei bersama LSI itu diklaim valid dan mampu dipertanggungjawabkan.

"Kami ingin hasil survei yang kredibel dan hasilnya sebanyak 0,4% mengaku pernah terlibat radikal, baik ikut terlibat aktif maupun yang menyumbang dana pada ge-rakan radikal dan intoleran," kata Yenny di Jakarta Pusat, kemarin.

Menurut dia, angka tersebut sangat fantastis karena itu artinya sebanyak 600 ribu orang Indonesia pernah terlibat gerakan radikalisme. "Jika diambil dari jumlah penduduk di Indonesia, ditemukan angka 600 ribu orang pernah terlibat. Ini kan sangat mengkhawatirkan."

Hasil survei itu juga meng-ungkapkan fakta sebanyak 7,7% orang Indonesia berpotensi terlibat gerakan radikalisme jika ada kesempatan. "Atau sebanyak 11 juta orang Indonesia jika dilihat dari jumlah penduduk di Indonesia," terangnya.

Meski itu terbilang mengkhawatirkan, Yenny mengaku lega karena berdasarkan survei tersebut sebanyak 72% responden menolak aksi dan tindakan radikal.

Menurutnya, itu merupakan peluang untuk mencegah berkembangnya paham dan gerakan kelompok radikal, termasuk pihak-pihak yang berpotensi untuk terlibat.

"Jadi ada ratusan juta yang menolak tindakan radikal.Bagusnya adalah kita bisa melakukan tindakan pencegahan gerakan radikal. Mumpung masih 0,4% kita lakukan tindakan untuk memperkecil dan agar tidak semakin melebar," imbuhnya.

Lakukan pendekatan

Yenny mengingatkan orangtua khususnya ibu untuk aktif melakukan pedekatan dan pendidikan terhadap anak-anaknya masing-masing, termasuk dalam berbagai lini kegiatan anak-anak mereka baik di organisasi kampus maupun luar kampus.

"Ke depan kita harus didik anak-anak kita dengan baik, kita didik dengan toleransi, agar bisa lebih dekat dengan kita," paparnya.

Menurutnya, pendidikan tinggi, status sosial yang baik, dan kondisi ekonomi yang baik tidak menjadi jaminan bahwa seseorang terhindar dari gerakan radikalisme.

"Contoh Bahrun Naim, orang Indonesia yang (terlibat) Islamic State. Dia itu S-2 dan keturunan orang mampu, tapi dia aktif merekrut anak-anak untuk masuk IS," terang dia.

Di sisi lain, Polri sedang menyelidiki kabar yang menyebutkan Bahrun telah tewas. "Sedang didalami," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul.

Untuk mendalami informasi tersebut, Polri berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Atase Kepolisian di Turki, dan Interpol. Upaya itu mendapat dukungan dari Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid.

"Infonya baru dari pemberitaan. Jadi mungkin pihak kepolisian mesti segera cek kebenarannya," kata Meutya.

Bahrun merupakan pentolan IS untuk wilayah Indonesia dan disebut-sebut sebagai dalang aksi teror bom Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016.(Nov/Deo/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya